RMco.id  Rakyat Merdeka - Penyebaran new coronavirus, yang kini menjalar ke sedikitnya 24 negara dengan angka kematian global 813 (melampaui jumlah korban jiwa wabah SARS pada tahun 2002-2003, Red) membuat China tak lagi menjadi satu-satunya negara yang dijauhi warga global.

Singapura dan Jepang yang merupakan negara dengan korban virus Corona terbanyak di dunia setelah China, kini juga masuk dalam daftar tersebut.

Tak percaya? Simak kisah Bankir Inggris Jamie Wong (34), yang semula berencana menghabiskan waktunya di kantor cabang perusahaannya di Singapura, pekan depan, karena hendak menghadiri acara pernikahan adik iparnya di Negeri Singa.

Namun, Wong yang ketika itu berada di Hong Kong, diberitahu perusahaannya untuk bekerja dari rumah saja, menyusul maraknya virus Corona jenis baru.

Wong juga dipastikan membatalkan perjalanannya ke Taiwan, menyusul kebijakan karantina 14 hari yang baru saja diterbitkan negara tersebut, untuk menekan laju wabah new coronavirus.

Meski Jepang tak memberlakukan pembatasan perjalanan bagi warga asing yang datang dari Hong Kong, Wong juga membatalkan perjalanannya ke Tokyo pada awal Maret mendatang, menyusul semakin tingginya angka korban virus Corona jenis baru di Negeri Sakura.

"Saya tak mau ketularan," kata Wong, yang tak membatalkan perjalanannya ke Malaysia pada April mendatang.

"Semoga, wabah ini akan berakhir," sambungnya.

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

Wong adalah satu dari sekian banyak orang yang membatalkan perjalanan bisnis dan liburannya ke Singapura, dan sejumlah negara Asia lainnya.

Hal ini terjadi, setelah new coronavirus yang bermula daari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China telah menjangkiti lebih dari 20 negara di dunia.

Jumat (7/2) lalu, pemerintah Singapura menaikkan level bahaya virus Corona dari kuning ke orange, menyusul munculnya penularan antar warga masyarakat di negara tersebut.

Terbukti, ada empat kasus new coronavirus, yang korbannya tidak pernah berinteraksi dengan mereka yang sudah lebih dulu terinfeksi. Selain itu, mereka  juga tak memiliki riwayat perjalanan ke China.

"Kalau bukan acara keluarga, saya pasti tak datang ke acara pernikahan di Singapura," ujar Wong.

Sejak menyebar pada 31 Desember 2019, coronavirus telah menginfeksi 37.566 orang, dan membunuh  813 orang sejagat. Yang berhasil sembuh, baru 2.152 orang.

Di luar China daratan, angka penyebaran virus dilaporkan mencapai angka tertinggi di Jepang, Singapura, dan Thailand.

Lebih dari 50 maskapai penerbangan telah membatalkan atau menyetop penerbangan ke China daratan untuk sementara. Pembatalan ini kadang juga mencakup Hong Kong.

Baca Juga : RUU Cipta Kerja Semoga Tidak Ciptakan Petaka

Di jagat Twitter, banyak tweeps yang bertanya pada maskapai dan hotel, soal pembatalan penerbangan ke Singapura.

Jumat (7/2) lalu, seorang Insinyur Teknik Kimia India Ankita Sarkar bertanya kepada situs pemesanan perjalanan Goibibo, apakah ia bisa kembali mendapatkan uangnya, atas pembatalan pemesanan kamar di Rest Bugis Hotel, yang awalnya di-booking pada Maret 2020.

Aydin Ilhan, yang menjalankan bisnis konsultan di Singapura mengatakan, ia telah merekrut warga Brazil dan telah memproses dokumen visanya. Namun, pekerja tersebut memilih tetap di Amerika Selatan, karena ia takut tertular virus Corona.

Bukannya tak mungkin, Aydin juga membatalkan perjalanan bisnisnya ke Hong Kong pada April mendatang. 30 kasus virus Corona telah terkonfirmasi di negara tersebut.

Pakar mikrobiologi meyakini, virus Corona telah mewabah di Hong Kong. Di negara ini, setiap orang yang datang dari China daratan, wajib dikarantina selama 14 hari.

Pada Jumat (7/2), Inggris memperluas daftar negara-negara di mana wisatawan yang kembali mengalami gejala coronavirus, harus mengisolasi diri. Singapura dan tujuh wilayah Asia lainnya, kini masuk dalam daftar baru tersebut. Padahal, sebelumnya aturan itu hanya berlaku untuk China daratan, tempat penyebaran virus tersebut bermula.

Aturan ini diberlakukan setelah seorang pria paruh baya menjadi warga Inggris ketiga yang terinfeksi virus Corona, setelah kembali dari pertemuan bisnis di hotel mewah Grand Hyatt, Singapura.

Konferensi ini dihadiri oleh lebih dari 90 peserta asing, termasuk dari Provinsi Hubei, China yang merupakan pusat penyebaran penyakit tersebut. Belakangan ini, beberapa peserta di Korea Selatan, Malaysia dan Singapura juga dinyatakan positif virus Corona.

Baca Juga : Hakekat Pamong Dan Prajurit

Dicoretnya Singapura dan Jepang dari daftar tujuan sementara warga global tentu saja cukup mengagetkan, mengingat kedua negara memiliki reputasi sebagai negara yang bersih dan efisien.

Soal ini, Ekonom DBS Irvin Seah mengungkapkan alasan di balik pencoretan Singapura dan Hong Kong.

"Kedua kota ini sangat padat penduduknya. Selain itu, arus wisatawan dua arah dengan China, juga sangat tinggi. Semoga kondisi ini tak berlangsung lama," jelasnya.

Seah memperkirakan, dalam setiap tiga bulan sekali periode travel ban, Singapura berpotensi kehilangan 1 juta turis yang nilainya kira-kira setara dengan 719 juta dolar AS. 

Terkait hal ini, Menteri Transportasi Singapura Khaw Boon Wan mengatakan, bersama Kementerian Keuangan, pihaknya berjuang memulihkan kondisi di sektor penerbangan.

Khaw juga menyarankan Bandara Changi untuk mempercepat bagian dari pembangunan Terminal 5, mengingat berkurangnya aktivitas di bandara.

Media lokal melaporkan, bisnis di Bandara Jewel Changi menunjukkan kerumunan yang lebih sepi ketimbang di mal. [HES]