RMco.id  Rakyat Merdeka - Total angka kematian akibat novel coronavirus, telah melampaui jumlah korban tewas akibat sindrom pernapasan akut (SARS) yang mewabah pada 2002-2003.

Kepastian ini datang, setelah Otoritas Kesehatan China melaporkan 97 angka kematian tambahan pada Minggu (9/2), 91 di antaranya disumbang Provinsi Hubei - yang merupakan pusat penyebaran novel coronavirus -.

Dengan demikian, total kasus kematian global akibat novel coronavirus pneumonia (NCP) - nama resmi yang diberikan Komisi Kesehatan China (NHC) pada Sabtu (8/2) - kini berjumlah 910. Rinciannya: 908 di China, 1 di Hong Kong, 1 di Filipina.

Baca Juga : Antisipasi Aksi Massa, Polda Metro Kerahkan 9.346 Personel Gabungan

Virus ini juga dilaporkan telah menjangkiti 40.553 orang di sedikitnya 24 negara. Sedangkan jumlah penderita yang berhasil disembuhkan baru 3.342 orang.

Menurut data WHO, wabah SARS yang melanda China dan sebagian wilayah Asia pada 2002-2003 telah menewaskan 813 orang.

Tingkat kematian akibat SARS, disebut lebih tinggi dibanding NCP, dengan angka 10 persen. Sedangkan tingkat kematian akibat NCP, dilaporkan sebesar 2 persen dari total terjangkit.

Baca Juga : Rusia Minta Perang Di Nagorno-Karabakh Diakhiri

Agar wabah ini tak semakin menyebar, sejumlah negara - termasuk Jepang, AS dan Singapura, telah melarang pelancong yang memiliki riwayat perjalanan ke China, untuk memasuki wilayahnya.

Sejumlah negara seperti AS, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Inggris juga telah mengevakuasi warganya dari Wuhan,  pusat penyebaran virus NCP, yang juga salah satu dari banyak kota di China telah dikunci secara efektif.

Minggu (9/3), Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan, pihaknya telah memberangkatkan sejumlah pakar medis yang dipimpin oleh Badan Kesehatan PBB ke China, untuk menanggulangi wabah NCP.

Baca Juga : Polisi Amankan 39 Pemuda di Sekitaran DPR, Ngakunya Dapat Undangan Dari Medsos

Misi investigasi ini dipimpin oleh ahli epidemiologi Kanada, Bruce Aylward. [HES]