RMco.id  Rakyat Merdeka - Hasil penelitian terbaru yang diperoleh dari sampel 1.000 pasien new coronavirus - yang berasal dari 552 rumah sakit di 31 provinsi di China - dalam periode 1-29 Januari 2020 menyebutkan, masa inkubasi virus Corona jenis baru itu ternyata bukan 14 hari, seperti yang selama ini kita ketahui.

Masa inkubasinya ternyata sampai 24 hari.

Seperti dilansir The Straits Times pada Selasa (11/2), hanya sedikit pasien yang menunjukkan gejala terinfeksi, saat pertama kali berobat ke dokter.

Dari 1.000 pasien tersebut, hanya 1,18 persen yang memiliki kontak langsung dengan satwa liar, yang diduga kuat menjadi penyebab munculnya new coronavirus.

Baca Juga : Keren, Jalur Ganda Kereta Api Selatan Jawa Kini Sudah Tersambung

Studi yang digarap oleh lebih dari 30 peneliti dari berbagai rumah sakit dan sekolah medis di China itu, dipimpin oleh Dr. Zhong Nanshan, pakar epidemiologi China yang menemukan coronavirus penyebab penyakit sindrom pernapasan akut (Severe Acute Respiratory Syndrome/SARS) pada tahun 2003.

Studi tersebut menunjukkan, masih banyak yang diketahui publik soal virus Corona jenis baru yang diberi nama 2019-nCoV (novel coronavirus).

Sangat mungkin, metode identifikasi awal virus tersebut memiliki sejumlah kekurangan, yang menyebabkan mayoritas orang yang terinfeksi menjadi tidak terdeteksi.

Hasil penelitian itu menyebutkan, awalnya, demam hanya dialami oleh 43,8 persen pasien. Namun, setelah menjalani perawatan, angkanya naik menjadi 87,9 persen.

Baca Juga : Kementan Dukung Program KPB Lampung, Bukti Pertanian Indonesia Maju, Mandiri Dan Modern

Dalam kasus 2019-nCoV, banyak pasien yang tidak mengalami kenaikan suhu tubuh. Tak seperti SARS dan MERS.

Jika paramedis hanya fokus pada kenaikan suhu tubuh sebagai indikator utama pasien tersebut telah terinfeksi new coronavirus, maka pasien tanpa demam itu bisa saja terlewatkan.

Sebelum pasien menjalani tes asam nukleat (NATs) untuk memastikan terjangkit atau tidaknya oleh new coronavirus, hasil CT Scan paru-paru mereka harus sudah menunjukkan tanda-tanda infeksi. Lazimnya terlihat sebagai ground-glass opacity atau bilateral patchy, yang tampak membayangi paru-paru.

Hanya 840 pasien dalam studi tersebut, yang menjalani CT Scan. Separuh dari mereka, terbukti mengalami ground-glass opacity pada paru-parunya. Sedangkan 46 persennya, mengalami bilateral patchy.

Baca Juga : Menag: Tindak Tegas Kerumunan Hajatan Kankemenag Jombang

Hal ini menunjukkan bahwa hasil CT Scan juga bisa gagal mengidentifikasi, berapa banyak pasien yang telah terinfeksi.

Pada 27 Januari 2020, Komisi Kesehatan Nasional China merevisi sejumlah kriteria diagnostik. Hasil CT Scan yang menunjukkan gambar pneumonia pada paru-paru, tak lagi dibutuhkan untuk mengidentifikasi kasus.

Namun, karena adanya kekhawatiran bahwa NATs dapat memicu hasil negatif, beberapa dokter menyarankan tetap menggunakan hasil CT Scan sebagai rujukan.

Hasil riset yang telah dimuat dalam arsip penelitian medis medRxiv ini, masih berupa makalah prapublikasi, dan belum ditinjau oleh rekan sejawat. Karena itu, tidak boleh digunakan untuk memandu praktek klinis. [HES]