RMco.id  Rakyat Merdeka - Virus Corona jenis baru atau new coronavirus atau Covid-19 yang telah menewaskan lebih dari 1.000 warga dunia dan menginfeksi lebih dari 40 ribu orang di sedikitnya 24 negara (mayoritas terjadi di China, Red), adalah ancaman yang sangat menakutkan.

Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus bahkan menyebut, wabah coronavirus yang telah menyandang status darurat global ini, jauh lebih berbahaya ketimbang teroris.

“Virus ini dapat memiliki konsekuensi yang lebih kuat ketimbang tindakan teroris apa pun,” kata Tedros, usai pertemuan internasional yang terdiri dari 400 ilmuwan dan pakar lainnya di Jenewa, Swiss, seperti dilaporkan The Guardian, Selasa (11/2).

Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk mencari solusi bagi wabah yang kini menghantui.

Berhubung vaksin Covid-19 baru akan tersedia 18 bulan lagi, Tedros meminta warga dunia untuk mengoptimalkan obat-obatan yang ada, dalam memerangi wabah tersebut.

"Meningkatnya jumlah kasus terinfeksi coronavirus, di mana pasien yang bersangkutan tidak memiliki riwayat perjalanan ke China, hanyalah puncak dari gunung es. Dunia harus sadar, dan mempertimbangakan virus ini sebagai musuh nomor satu," ujarnya.

Baca Juga : Tenang, Kunci Pasien Covid-19 Cepat Sembuh

Ia meminta seluruh negara untuk se-agresif mungkin dalam memerangi Covid-19. "Jika dunia diam dan tidak mempertimbangkan virus ini sebagai musuh nomor satu, maka kita tak mengambil hikmah apa pun dari kasus ini," tutur Tedros.

"Saat ini, kita berada dalam strategi penekanan laju wabah. Kita tak boleh membiarkan virus ini mudah menulari orang lain," tandasnya.

Kata Tedros, kita tak boleh kehilangan pertahanan. "Kalau saat ini berinvestasi, kita akan memiliki kesempatan yang realistis untuk mencegah penyebaran virus ini," ujarnya.

Sebelumnya, pakar epidemiologi kesehatan masyarakat Hong Kong, Profesor Gabriel Leung yang diundang hadir di Jenewa mengatakan, Covid-19 dapat menginfeksi dua pertiga masyarakat dunia, jika lajunya tak dikendalikan.

Ketua Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Hong Kong itu menekankan, penting bagi kita untuk mengetahui ukuran dan bentuk gunung es wabah Covid-19.

Sebagian besar pakar kesehatan memperkirakan, orang yang terinfeksi coronavirus dapat menularkan kepada 2,5 orang lainnya. Dengan demikian, virus ini punya daya serang 60-80 persen.

Baca Juga : Pasien Sembuh Di Flat Isolasi Mandiri Sebanyak 145 Orang

"60 persen penduduk dunia adalah angka yang sangat besar. Apakah 60-80 persen populasi dunia itu akan terinfeksi? Mungkin tidak. Mungkin juga datang secara bergelombang. Mungkin sifat mematikannya akan melemah. Namun, itu juga tidak akan membantu, jika virus itu telah membunuh semua orang di jalurnya,” kata Leung kepada The Guardian di London, dalam perjalanannya ke Jenewa, Swiss, Selasa (11/2).

Meski secara umum, angka kematiannya masih 1 persen, Leung memperkirakan korban jiwa akibat coronavirus dapat terus bertambah, dari kasus yang saat ini masih ringan atau tak bergejala.

Leung mengatakan, penting untuk mengetahui langkah-langkah drastis yang diambil China, dalam mencegah penyebaran virus ini. Jika berhasil, maka cara tersebut bisa diadopsi di negara lain.

Para ahli juga harus mengetahui, apakah pembatasan akses di Wuhan dan kota-kota lainnya telah berhasil menekan laju penyebaran Covid-19.

"Katakanlah pembatasan itu membuahkan hasil. Tapi, berapa lama kita dapat menutup sekolah? Berapa lama kita menutup akses transportasi kota? Berapa lama kita tidak membolehkan orang datang ke pusat perbelanjaan. Bila semua pembatasan itu dicabut, apakah virus akan kembali mengamuk? Ini adalah pertanyaan yang sangat konkret," papar Leung.

Jika pembatasan tersebut tak berfungsi, maka dunia harus kerja keras mencari solusinya.

Baca Juga : Teten Gandeng KPK Kawal Banpres UMKM

Sejumlah negara menghadapi risiko karena banyaknya pergerakan orang dari dan ke China.

Saat mengunjungi Thailand beberapa waktu lalu, Leung menyarankan otoritas setempat untuk membangun tempat karantina, yang saat ini sudah dilaksanakan.

Tapi uniknya, negara lain yang juga memiliki kaitan cukup erat dengan China, tidak melaporkan adanya kasus Covid-19. Indonesia, misalnya. "Ke mana mereka? " tanya Leung. [HES]