Lembaga Fatwa Mesir Larang Masyarakat Tonton Netflix Soal Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam salah satu set syuting film Resurrection: Ertuğrul. (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam salah satu set syuting film Resurrection: Ertuğrul. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Lembaga Fatwa Mesir Dar al-Ifta al-Mishriyyah‎ melarang masyarakat menyaksikan tayangan sinema di Netflix Turki berjudul “Resurrection: Ertuğrul” dan “Valley of the Woods”. Kedua tayangan ini dinilai menjadi sarana propaganda Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mencitrakan diri sebagai pemimpin Muslim di dunia dan mimpi untuk membangkitkan kekaisaran Ottoman.        

“Tayangan itu juga menggiring penonton untuk menghidupkan kembali masa-masa Kekaisaran Ottoman yang tidak pernah akan terjadi,” demikian petikan fatwa tersebut seperti dikutip Tele1 News, Rabu(12/2).      

Baca Juga : Komisi VII DPR Akan Cari Jalan Keluar Masalah Larangan Ekspor Nikel

Fatwa dari otoritas keagamaan di Mesir ini menjadi salah satu rujukan hukum bagi masyarakat tentang masalah bersinggungan dengan agama dari otoritas Islam yang diakui. Peringatan para mufti di Mesir ini diterbitkan di situs web Dar Al Ifta.        

Fatwa tersebut menuding bahwa Erdogan tengah bermimpi untuk menghidupkan kembali Kekaisaran Ottoman. Serial televisi di Netflix Turki “Resurrection: Ertuğrul” dan “Valley of the Woods” menjadi alat propaganda untuk membantu Erdogan mencapai tujuan ini.      

Baca Juga : Wamen PUPR Keluhkan Pembangunan Di Daerah Lambat

Tayangan itu menjadi sarana pendekatan persuasif dan membangun opini masyarakat. Tujuannya untuk membenarkan berbagai kebijakan yang dilakukan Turki saat ini. “(Erdogan) tidak akan gagal untuk mewujudkan mimpinya … melalui kekuatan persuasifnya, melalui karya seni dan budaya. Bukti terbaik dari ini adalah serial televisi tersebut,” tulis fatwa itu.      

“Resurrection: Ertuğrul” menggambarkan kehidupan masyarakat Muslim nomaden Turki, khususnya Ertuğrul, ayah dari pendiri Kekaisaran Ottoman, Osman I. Sedangkan tayangan “Valley of the Wolves,” memperlihatkan petualangan militer dan kebijakan keamanan nasional Turki saat ini.        

Baca Juga : Toyota Sudah Siapkan Strategi Antisipasi Dampak Corona

Dar Al Ifta menuding, tayangan itu menampilkan “wacana menyesatkan” yang menafsirkan teks-teks Islam secara pragmatis. Hal itu juga berupaya mencitrakan positif dari tindakan yang salah.      

Sementara itu, para penggemar acara ini di Mesir menyuarakan protes mereka ke media sosial atas fatwa ini. Mereka menilai fatwa Dar Al Ifta kontroversial. “Dar Al Ifta melarang serial tayangan dari Turki. Tapi mengapa Mesir masih menayangkan acara yang memiliki konten Non-Muslim?”protes seorang pengguna. [KW]