Jadi Co-Host Bareng Kolombia dan UEA

Dalam Forum Budaya UNESCO, Indonesia Berbagi Pengalaman Soal Ekonomi Kreatif

Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Profesor Surya Rosa Putra, saat berbicara dalam Forum Budaya UNESCO di Paris, Rabu (12/2). (Foto: KBRI Paris)
Klik untuk perbesar
Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Profesor Surya Rosa Putra, saat berbicara dalam Forum Budaya UNESCO di Paris, Rabu (12/2). (Foto: KBRI Paris)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Bersama Kolombia dan Uni Emirat Arab (UEA), Indonesia menjadi tuan rumah bersama (co-host) kegiatan side event sidang 13th Intergovernmental Committee of the 2005 Convention on the Protection and Promotion of the Diversity of Cultural Expressions di Markas Besar UNESCO, Paris, Rabu (12/2).

Dalam kesempatan tersebut, Indonesia membagi pengalaman dan kebijakan untuk mainstreaming ekonomi kreatif di tingkat nasional.

Berbicara di hadapan para undangan dan delegasi negara-negara anggota UNESCO, Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Profesor Surya Rosa Putra mengatakan, Indonesia telah melakukan sejumlah langkah untuk mempromosikan isu ini serta menggalang kolaborasi antar-negara di level internasional.

Baca Juga : Kerek Daya Saing Industri, Menperin Ngarep Harga Gas Turun

Inisiatif pertama adalah penyelenggaraan Forum World Conference on Creative Economy (WCCE) di Bali pada tahun 2018, yang dilanjutkan dengan forum Friends of Creative Economy (FCE) tahun 2019.

Forum WCCE tahun 2018 berhasil mengadopsi Bali Agenda for Creative Economy, yang antara lain meliputi pembiayaan dan capacity building untuk pengembangan ekonomi kreatif.

Inisiatif kedua Indonesia adalah proposal Resolusi PBB “International Year of Creative Economy for Sustainable Development 2021”, yang kemudian telah diadopsi pada tanggal 19 Desember 2019.

Baca Juga : Waspada Wabah Corona, Australia Tutup Pintu Buat Warga Asing dari Iran

Resolusi ini berisi sejumlah langkah pengembangan ekonomi kreatif, dalam rangka mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Profesor Surya Rosa juga menyampaikan inspirasi dan panduan yang diperoleh dari Konvensi 2005 dalam proses penyusunan kebijakan, regulasi dan rencana pengembangan budaya nasional. Terutama, yang terkait ekonomi kreatif.

Bagi pemerintah Indonesia, pengembangan ekonomi kreatif sangat strategis karena berkontribusi bagi pembangunan ekonomi, peningkatan devisa, serta identitas dan nilai-nilai bangsa.

Baca Juga : Gandeng Kemenkominfo, Gojek Tingkatkan Teknologi Digital yang Makin Aman

Ketiga negara co-host dinilai sebagai leader di tingkat global, dalam upaya mempromosikan ekonomi kreatif dan penerapan Konvensi 2005.

Sidang Sesi ke-13 ini dibuka oleh Ernesto Ottone, Deputi Dirjen UNESCO, dan berlangsung pada tanggal 11-14 Februari 2020 untuk membahas rencana kerja periode 2020-2021. Termasuk, monitoring kebijakan dan kegiatan-kegiatan. [HES]