RMco.id  Rakyat Merdeka - Jalur pendidikan jadi salah satu upaya yang dimanfaatkan Indonesia-Jepang untuk saling mendekatkan diri. Sebagai bentuk penghormatan dari Pemerintah Jepang, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masafumi Ishii menyerahkan penganugerahan bintang jasa kepada rektor ITB Djoko Santoso yang dianggap berkontribusi membangun hubungan lewat pertukaran akademi dan pelajar.

Menurut Dubes Ishii, Djoko punya andil dalam meningkatkan pertukaran rektor serta pendidikan antara Jepang dan Indonesia melalui penyelenggaraan Konferensi Rektor Jepang-Indonesia pertama pada November 2012. Pengiriman para pengajar Indonesia ke Jepang dengan beasiswa Pemerintah Indonesia sebanyak kurang lebih 300 orang.

“Enam tahun kemudian jumlah itu meningkat. Angka pelajar Indonesia yang belajar ke Jepang itu meningkat setiap tahunnya, bahkan angkanya mencapai lima ribu saat ini,” ujarnya dalam sambutan di Jakarta, dua hari lalu.

“Kami tidak akan pernah bisa sampai pada pencapaian saat ini, kalau Bapak Djoko tidak pernah memulainya kala itu. Maka dari itu, dengan segala kerendahan hati saya ucapkan terima kasih banyak,” sambungnya.

Berita Terkait : BNI Terpilih Jadi Bank Penyalur Kredit Peduli Lingkungan Terbaik

Sebagai Profesor dan Rektor ITB, Djoko yang mantan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud ini, kata Ishii terlibat dalam pelaksanaan proyek badan kerja sama Inter- nasional Jepang atau JICA untuk membenahi infrastruktur ITB, serta pendirian jaringan tenaga ahli dalam pendidikan teknologi antara Jepang serta ASEAN. Ia juga berkontribusi dalam mendi- rikan Indonesia Accreditation Board for Engineering Education (IABEE) yang dibina oleh Japan Accreditation Board for Engineering Education (JABEE).

“Saya pikir pertukaran pelajar ini jadi momen penting. Karena bukan hanya pelajar Indonesia belajar di Jepang, melainkan ada pertukaran budaya yang kedua negara bisa pelajari,” tambah Dubes ramah itu.

Tak sampai di situ, pihaknya, lanjut Ishii juga memiliki sistem program magang ke Jepang. Mereka mempekerjakan beberapa orang Indonesia di perusahaan Jepang. Para pelajar diberi kesempatan magang, jumlahnya menca- pai 22 ribu peserta magang.

“Saya tidak sabar untuk menerima lebih banyak lagi pelajar Indonesia untuk belajar ke Jepang. Demi masa depan yang lebih baik untuk kedua negara, hubungan persahabatan ini pun, mari kita teruskan,” ujar Ishii tersenyum.

Berita Terkait : Hari Ini, Transaksi Kartu Kredit BNI Wajib Pakai PIN

Djoko yang menerima penghargaan didampingi keluarga dan sahabatnya itu pun mengaku merasa tersanjung. Bahwa apa yang dilakukannya saat itu karena ingin mahasiswanya meraih pengalaman belajar yang lebih baik.

“Ini adalah penghargaan terbesar buat saya. Menerima Golden Rising Sun dari Pak Dubes. Ber- dasarkan pengalaman saya kuliah di Tokyo pada 1979, masa di mana saya mulai belajar bahasa Jepang,” kata Djoko.

“Tentu ini bukan hanya pelajaran semata yang saya dapat. Selama pendidikan, saya juga mempelajari bagaimana karakter dan attitude masyarakat di sana yang akhirnya saya bawa. Mereka yang terkenal dengan disiplinnya,” sambungnya.

Sebagai salah negara berkembang, perekonomian baik, modern tetapi tidak melupakan tradisi, Jepang layak dipilih pelajar Indonesia untuk berkuliah.

Baca Juga : Ortu Bokek, Sekolah Online Memberatkan

“Persepsi saya kenapa Jepang jadi salah satu negara favorit untuk belajar adalah di sana pelajar attitude dan karakter penting. Itu yang saya pelajari, itu yang menjadi daya tarik,” jelas dia.

Untuk itu dalam rencana ke depannya, Djoko masih akan merekomendasikan mahasiswanya untuk menjadikan Jepang sebagai salah satu tujuan studi. “Kalau saya ditanya, negara yang mana. Saya akan sarankan pilih Jepang. Saya akan membuka peluang pelajar kita untuk bisa belajar di Jepang,” tandasnya. [MER]