Coret Indonesia Dari Negara Berkembang

Trump Nyenengin Apa Mau Nyakitin

Donald Trump (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Donald Trump (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden AS, Donald Trump, kembali bikin kehebohan. Trump mencoret Indonesia dari status negara berkembang. Dengan begitu, Indonesia masuk negara maju. Dengan keputusan ini, Trump justru mau memotong insentif dagang Indonesia selama ini. Jadi, kebijakan Trump ini nyenengin apa nyakitin?

Dilansir dari Bloomberg, Pemerintah AS mempersempit daftar internalnya terkait negara-negara yang masuk kategori developing dan least-developed. Ini dilakukan untuk menurunkan batasan syarat suatu negara bisa diinvestigasi karena menganggu industri AS dengan subsidi ekspor yang tidak adil. Hal ini diketahui berdasarkan pemberitahuan dari Kantor Perwakilan Dagang AS.

Selain Indonesia, negara berkembang lain yang dicoret dalam preferensi ini adalah Albania, Argentina, Armenia, Brasil, Bulgaria, China, dan India. The US Trade Representative (USTR) menyatakan, keputusan tersebut bertujuan untuk memperbarui pedoman investigasi perdagangan. Sebab, panduan sebelumnya, yang berlaku mulai 1998, sudah usang.

Berita Terkait : AS Depak RI Dari Negara Berkembang, Ini Kata Mendag

Keputusan itu juga selaras dengan keluhan Trump yang sering kesal karena banyak negara mengaku masih berkembang, sehingga dapat untung dari aturan dagang AS. Misal, terkait aturan minimum subsidi produk ekspor.

Berdasarkan rilis resmi USTR, ada tiga aturan mengapa sebuah negara tak lagi masuk kategori berkembang dan tak berhak mendapat perlakuan spesial dari AS. Pertama, pendapatan nasional per kapita di atas 12 ribu dolar AS. Kedua, sebaran ke perdagangan dunia lebih dari 0,5 persen. Ketiga, mempertimbangkan keanggotaan di organisasi ekonomi internasional.

Pendapatan nasional per kapita Indonesia sebenarnya baru 3.027 dolar AS per 2018. Namun, Indonesia masuk kategori kedua dan ketiga. Menurut data The Global Economy, sebaran ekspor Indonesia sudah mencapai 0,91 persen per 2017. Selain itu, Indonesia merupakan anggota G20.

Berita Terkait : Monoarfa Waswas Defisit Neraca Perdagangan Kita Makin Lebar

"Perwakilan Dagang AS mempertimbangkan bahwa negara dengan share 0,5 persen atau lebih di dalam perdagangan dunia merupakan negara maju. Keanggotaan G20 mengindikasikan bahwa sebuah negara itu maju," lanjut USTR.

Dua faktor itu pun menyebabkan Indonesia dan sejumlah negara lain tak berhak lagi mendapat perlakuan khusus. Contohnya, insentif dagang yang selama ini didapatkan Indonesia akan hilang. Hal ini diperkirakan akan menggangu ekspor Indonesia.

Ekonom  Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, mengkhawatirkan ekspor produk Indonesia, khususnya tekstil, ke AS akan turun karena kebijakan ini. "Ada total 3.572 produk Indonesia yang dapat Generalized System of Preferences (GPS). Cuma share ekspor tekstil apparel Indonesia ke AS lumayan besar," ucapnya.

Berita Terkait : AS Keluarkan Indonesia Dari Daftar Negara Berkembang

Ia mengatakan, dengan turunnya ekspor, akan berpengaruh pada melebarnya defisit neraca perdagangan setelah sebelumnya pada Januari 2020 defisit mencapai 864 juta dolar AS. "Tercatat dari Januari-November 2019 ada 2,5 miliar dolar AS nilai ekspor Indonesia," kata Bhima.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P Roeslani, memahami bahwa Indonesia tidak bisa terus menerus bergantung pada fasilitas dari AS yang selama ini diberikan. "Tidak mungkin juga selamanya kita tergantung kepada fasilitas-fasilitas itu karena memang kita akan menjadi negara maju," sebutnya.

Menurutnya, hal ini harus menjadi motivasi bagi pengusaha dan pemerintah untuk meningkatkan daya saing. "Jadi memang para pengusahanya juga harus terus meningkatkan, bersama pemerintah meningkatkan daya saing kita, baik dengan kebijakan-kebijakan fiskal, moneter, kemudian efisiensi, menurunkan biaya logistik, biaya produksi, cost of fund, dan meningkatkan produktivitas," jelas Rosan. [ASI]