RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menandatangani perjanjian bersejarah dengan Taliban, yang merupakan langkah awal penarikan tentara asing dari Afghanistan. Untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung di negara tersebut, selama 18 tahun.

Kesepakatan tersebut ditandatangani di ibu kota Qatar, Doha, oleh utusan khusus AS Zalmay Khalilzad dan Kepala Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar. Serta disaksikan oleh Sekretaris Negara AS, Mike Pompeo.

Terkait hal ini, Sekretaris Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan, ini adalah langkah yang bagus, meski baru tahap permulaan.

"Untuk mencapai perdamaian abadi di Afghanistan, dibutuhkan kesabaran dan kompromi dari semua pihak, ”kata Esper, yang telah bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani di Kabul, dan mendeklarasikan perjanjian AS-Taliban secara paralel.

Baca Juga : Wagub Jabar Berikan Bantuan Untuk Santri Tani

AS mengemukakan, pihaknya berkomitmen untuk mengurangi tentaranya di Afghanistan, dari saat ini 13.000 menjadi 8.600 orang, dalam 135 hari setelah perjanjian.

Jika Taliban mematuhi perjanjian itu, selama periode 135 hari, AS akan bekerja sama dengan negara sekutu untuk mengurangi pasukan koalisi secara proporsional.

Perjanjian itu menyebut, penarikan penuh seluruh pasukan AS dan koalisi akan terjadi dalam waktu 14 bulan, setelah kesepakatan ditandatangani.

"Kami akan mengakhiri perang Amerika terlama, dan menarik seluruh tentara dari wilayah tersebut," kata Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataan yang dirilis Gedung Putih, Sabtu (29/2).

Baca Juga : Dana PEN Koperasi dan UKM Terserap Rp 10,24 T

Kesepakatan ini memberikan kesempatan untuk mewujudkan janji Trump, yang ingin menarik seluruh pasukan AS dari Afghanistan, saat kampanye pada November tahun lalu.

Sementara para ahli keamanan mengatakan, perjanjian tersebut merupakan bentuk pertaruhan kebijakan luar negeri AS, yang akan memberikan legitimasi internasional kepada Taliban.

Dalam konferensi persnya, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani berharap, perjanjian tersebut dapat membuka jalan menuju perdamaian abadi. "Bangsa kami sedang menanti gencatan senjata penuh," ujarnya seperti dikutip Reuters, Sabtu (29/2).

Ghani mengatakan, pihaknya siap menegosiasikan gencatan senjata dengan Taliban, serta menegaskan dukungannya terhadap penarikan bertahap AS, dan pasukan koalisi, agar Taliban bersedia memenuhi komitmennya.

Baca Juga : KSAD Andika Tunjuk Brigjen TNI Asrofi Sueb Jadi Ketua Pelaksana Uji Klinis Obat Covid-19

"Kami berkomitmen mencegah kelompok-kelompok militan menggunakan tanahnya untuk mengancam keamanan Amerika Serikat, sekutunya, dan negara-negara lain," tegas Ghani. [HES]