1.000 Kali Lebih Kuat Dari SARS, Obatnya Belum Ditemukan

Kapan Virus Corona Wafat? Wallahualam

Virus Corona/Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Virus Corona/Ilustrasi (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Penyebaran Virus Corona alias Covid-19 kian mengkhawatirkan. Sampai kemarin, virus yang berasal dari Wuhan, China, itu sudah menginfeksi lebih dari 83 ribu orang dan sudah menyebar ke 55 negara. Virus ini mirip HIV tapi lebih kuat 1.000 kali dari SARS. Celakanya sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Makanya kalau ditantang kapan penyebaran wabah ini berakhir? Wallahualam.

Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Moh Adib Khumaidi mengatakan, sampai kemarin, belum ada pihak yang berhasil menemukan anti-virus untuk corona atau Covid-19. Karena itu, kata dia, penyebaran virus corona akan terus berlanjut. " Jadi ini masih akan panjang," ujarnya di Hotel Shangri-la, Jakarta Pusat, kemarin.

Soal kabar Amerika telah menemukan anti-virus corona, Abdi mengatakan, vaksin itu belum terbukti ampuh secara ilmiah menangkal Covid-19. Dia meminta masyarakat tetap waspada terhadap penyebaran virus ini. "Jadi tidak ada yang menjamin ini selesainya kapan," kata dia.

Adib mengatakan, sampai 20 Februari 2020, IDI telah menerima laporan dugaan virus corona sebanyak 116 kasus. Namun saat dicek secara komprehensif, seluruh terduga corona virus itu negatif. "Belum ada yang positif," ujar Adib.

Berita Terkait : Trump Pastikan AS Siap Hadapi Wabah Virus Corona

Meskipun begitu, dia mengatakan masyarakat tetap harus khawatir dan was-was terhadap virus ini. Apa lagi, secara geografis Indonesia termasuk negara yang berisiko karena memiliki banyak pintu masuk dari negara luar. Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah dan masyarakat untuk tidak lalai. "Jadi pada prinsipnya kita tak boleh panik, tapi tetap waspada," ujar dia.

Anggota Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra mengatakan, ada tiga kemungkinan belum ada kasus positif corona di Indonesia. Pertama, ada dugaan warga yang positif virus corona ini tak terlaporkan. Faktor lainnya, lanjut Hermawan, karena Indonesia gagal mendeteksi virus corona sejak awal. Kemungkinan terakhir bisa saja karena Indonesia yang jauh dari lokasi terdampak virus sehingga membuat penyebaran virusnya cukup sulit.

Kekhawatiran makin meluas lantaran dari penelitian diketahui virus ini lebih ganas dari SARS. Mirip-mirip Human Immunodeficiency Virus (HIV). Penelitian yang dilakukan ilmuwan China dan Eropa ini diketahui corona memiliki mutasi serupa HIV, yang artinya punya kemampuan untuk mengikat sel manusia 1.000 kali lebih kuat dibandingkan SARS.

Studi yang dipimpin oleh Profesor Ruan Jishou dari Nankai University ini menganalisis urutan genom dari virus corona dan membandingkannya dengan sejumlah virus lain seperti SARS, HIV, dan Ebola. Peneliti menemukan bagian gen yang bermutasi di virus corona justru tidak ada di SARS, tetapi serupa dengan yang ada di HIV dan Ebola.

Berita Terkait : Wabahnya Makin Meluas di Eropa, Norwegia Umumkan Kasus Pertama Virus Corona

"Temuan ini menunjukkan virus corona ini mungkin sangat berbeda dari SARS, di jalur infeksi. Virus ini menggunakan mekanisme pengemasan virus lain seperti HIV," kata Jishou dalam penelitiannya yang dipublikasikan di Chinaxiv, dikutip media China, kemarin.

Hasil penelitian ini diamini dengan studi lanjutan yang dipimpin oleh Profesor Li Hua dari University of Science and Technology di Wuhan. Penelitian Li Hua menemukan mutasi di virus corona tidak dapat ditemukan di Sars dan Mers-Cov, dua keluarga virus corona. "Ini menjadi alasan mengapa virus corona baru lebih menular dibandingkan virus corona lainnya," kata Li. Studi lain dari ilmuwan Prancis, Etienne Decroly juga menemukan pembelahan virus corona baru tidak ada pada virus corona sebelumnya.

Melihat keganasan corona Ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan tingkat ancaman virus corona ke level maksimum. Apalagi penyebarannya sudah sampai ke Afrika dan berdampak luas terhadap kondisi perekonomian dunia.

Dirjen WHO, Tedros Adhanom mengatakan, keputusan itu dilakukan melihat kasus penularan dan tingkat kematian dan jumlah negara yang terdampak terus bertambah. Dia bilang, kita masih punya kesempatan untuk mencegah penyebaran virus itu jika menerapkan kebijakan yang cermat dan tegas terkait deteksi kasus. "Seperti melakukan isolasi dan penanganan pasien dan melacak siapa saja yang pernah bertemu dengan orang yang tertular," kata Adhanom, di Swiss, kemarin.

Berita Terkait : AS Waspada Tingkat Tinggi

Kepala Program Darurat Kesehatan WHO, Michael Ryan, cemas lantaran virus corona sampai menyebar di Afrika. Sebab, infrastruktur kesehatan di benua tersebut dianggap belum mampu menangani penyebaran wabah. Beberapa negara Afrika yang sudah mengonfirmasi virus corona adalah Nigeria, Mesir dan Aljazair dengan masing-masing satu kasus. Sampai kemarin, sudah 85 ribu orang yang tertuang dan korban meninggal mencapai 2.924 orang. Sementara umlah pasien yang sembuh mencapai 39.485 orang.

Keputusan WHO itu tak lepas dari masih belum ada obat untuk virus ini. Paling cepat, vaksin virus corona akan tersedia dalam 10 sampai 12 bulan ke depan. "Kami tidak begitu yakin tapi kemungkinan pembuatan vaksin ini akan memakan waktu hingga satu tahun. Jika kita beruntung mungkin 10 bulan bisa selesai," kata Paranietharan, perwakilan WHO di Indonesia.

Sampai kapan virus ini berakhir? Rakyat Merdeka pernah menanyakan soal ini kepada Menkes Terawan Agus Putranto. Mantan Kepala RS PAD Gatot Soebroto tak mau berspekulasi. "Kita berdoa saja. Mudah-mudahan," kata Terawan. [BCG]