RMco.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) memang lebih kaya dan lebih hebat dibanding Indonesia. Namun, untuk urusan menangkal wabah Virus Corona, negara para koboi itu tak sekebal Indonesia. Buktinya, sudah ada 1 warga AS di negaranya yang meninggal akibat terjangkit virus mematikan asal Wuhan, China, tersebut.

Penyebaran virus corona memang sudah sampai AS. Di negeri itu dilaporkan sudah ada 62 orang yang terinfeksi. Satu orang meninggal. Korban meninggal pertama itu seorang perempuan berusia 50 tahun. Ia meninggal di RS EvergreenHealth di Kirkland, dekat Seattle, Washingto, Sabtu lalu.

Kasus ini bikin warga AS cemas. Soalnya, korban diyakini merupakan kasus community speard atau pasien yang tertular virus corona tanpa pernah pergi ke negara-negara terdampak ataupun melakukan kontak dengan pasien virus corona.

Mendapati kenyataan ini, Presiden AS, Donald Trump, agak blingsatan. Hari ini, rencananya Trump akan memanggil seluruh pakar kesehatan dan perusahaan farmasi untuk membahas langkah pencegahan yang perlu diambil dan pengembangan vaksin corona.

Berita Terkait : Warganya Hilang, Pengadilan AS Denda Iran Rp 20 Triliun

Selama proses itu berjalan, Trump meminta publik tidak panik ataupun terprovokasi berita-berita yang mencoba menimbulkan kepanikan. Menurutnya, kepanikan tidak akan membantu menyelesaikan situasi yang berkembang. Malah, kepanikan bisa berdampak terhadap perekonomian Amerika yang sebelumnya sudah terpukul akibat pembatasan penerbangan.

"Saya akui ini bukan situasi yang bagus, terutama ketika bisnis perjalanan yang merupakan bagian besar dari pasar global. Tapi, untuk saat ini, kita harus fokus. Kesehatan dan keselamatan adalah yang utama. Pasar akan bangkit dengan sendirinya," kata Trump, seperti dikutip CNN, kemarin.

Ia pun membatasi warganya berpergian ke Italia, Korea Selatan, dan Iran. Hal itu dilakukan untuk mencegah epidemi virus corona yang lebih buruk.

Dibandingkan AS, Indonesia tentu harus bersyukur. Sampai saat ini, Indonesia menjadi salah satu negara di Asia yang belum melaporkan pasien karena virus corona. Memang, ada 136 pasien yang tengah menjalani perawatan lantaran diduga atau suspect corona. Namun, hasil pemeriksaan menyatakan mereka negatif.

Berita Terkait : Trump Masih Sombong

Sayangnya, kondisi ini malah jadi sorotan warga dunia. Banyak yang meragukan Indonesia masih bebas virus corona. Salah satunya Perdana Menteri Australia, Scott Morrison. "Saya tidak bermaksud (tidak sopan). Indonesia memiliki sistem kesehatan yang berbeda dengan Australia. Dan kami memiliki kapasitas yang berbeda untuk memberikan jaminan tersebut," kata Morrison.

Sekilas, keraguan Morrison itu memang beralasan. Saat ini Indonesia dikelilingi negara yang sudah melaporkan kasus pasien positif virus corona. Seperti Australia sendiri, Malaysia, Singapura, Thailand, serta Filipina.

Menkes Terawan menanggapi santai sindiran Morrison. Kata dia, kalau Morrison tak percaya, biar saja. "Ragu, ya biasa saja. Nanggapin orang ragu ya pusing," kata Terawan di Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, kemarin.

Terawan menegaskan bahwa semua orang yang sempat diduga mengidap virus corona sudah dinyatakan negatif. Termasuk WNI yang baru saja dijemput dari luar negeri. Begitu juga dengan kasus pasien di RSUP Dr Kariadi, Semarang, Jawa Tengah, yang meninggal. Pasien itu sempat menunjukkan tanda-tanda terinfeksi virus corona sebelum meninggal. Namun, setelah diperiksa, pasien tersebut meninggal karena flu babi.

Berita Terkait : Serem, Jatim Zona Merah Untuk Tenaga Kesehatan

"Semua hasil PCR (Polimerase Chain Reaction)-nya itu negatif. Jadi, saya menyatakan bahwa sampai detik ini semua hasil pemeriksaan itu negatif," imbuh Terawan.

Sehari sebelumnya, Menko Polhukam, Mahfud MD, menegaskan hal yang sama. "Sekarang Indonesia menjadi salah satu negara yang masih nol (corona). Coba, kalau ada, di mana itu virus corona," ucap Mahfud.

Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan, Alexius Jemadu, menyarankan Presiden Jokowi aktif menjelaskan kepada dunia internasional ihwal langkah-langkah penanganan virus corona. Hal itu perlu dilakukan untuk menjaga kredibilitas Indonesia di tengah keraguan sebagian negara. "Kalau Presiden tampil dan mengatakan bahwa pemerintah bekerja dengan baik, saya kira dunia akan percaya," kata Alexius.

Dia bilang, tampilnya Jokowi penting untuk mengantisipasi pemberitaan media internasional yang tak bisa dikontrol. "Jangan sampai kecolongan," sarannya. [BCG]