Sedih Tak Jadi PM Lagi

Mahathir Dipeluk Istri

Mahathir Mohamad (kanan) saat dipeluk istrinya Tun Siti Hasmah yang diunggah di Instagram Mahatir Mohamad @chedetoffiial)
Klik untuk perbesar
Mahathir Mohamad (kanan) saat dipeluk istrinya Tun Siti Hasmah yang diunggah di Instagram Mahatir Mohamad @chedetoffiial)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Keinginan Mahathir Mohamad menjadi Perdana Menteri (PM) lagi gagal total. Raja Malaysia, Yang Dipertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah, memilih mengangkat Muhyiddin Yassin sebagai PM baru.

Mahathir pun sedih, gondok dan protes. Istri Mahathir, Siti Hasmah, mencoba menguatkan sang suami. Kemarin pagi, Raja Malaysia resmi melantik Muhyiddin. Pelantikan yang digelar di Istana Negara itu, berlangsung khidmat dan lancar.

Mahathir tidak hadir dalam pelantikan tersebut. Mahathir menganggap Muhyiddin, yang merupakan mantan anggota kabinetnya, sebagai pengkhianat. Sebab, Presiden Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) itu telah bersekutu dengan Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), partai yang dikalahkan Mahathir di Pemilu 2018.

Saat Muhyiddin dilantik, Mahathir menyaksikan lewat layar dari kediamannya bersama sang istri, Siti Hasmah. Usai nonton, Mahathir menggelar konferensi pers.

Ada momen emosional yang disajikan Mahathir dan istri. Momen ini diketahui dari unggahan Mahathir di akun instagramnya @chedetofficial.

Berita Terkait : Resmi Jadi PM Malaysia, Pelantikan Muhyiddin Yassin Cuma 12 Menit

Lewat video berdurasi 1 menit ini, Siti Hasmah berusaha menguatkan sang suami. Momen ini terjadi setelah Mahathir melakukan konferensi pers.

Siti Hasmah yang menunggu Mahathir kelar merampungkan konferensi pers, langsung memeluk politisi senior tersebut yang sudah enam dekade menemani hidupnya. Mahathir awalnya malu-malu saat sang istri menghampiri dan memeluknya.

Namun, ketika keluarga, awak media, dan pendukungnya meminta Mahathir tidak malu dan turut memeluk Siti Hasmah, pria 94 tahun ini kemudian membalas pelukan sang istri dengan mesra. "Terima kasih semuanya," tulis Mahathir dalam keterangan video yang diunggahnya.

Keduanya tak kuasa menahan haru. Nampak dari wajahnya yang sendu. Unggahan Mahathir ditonton lebih dari satu juta orang. Ribuan warganet mengomentari video tersebut. Kebanyakan berterima kasih kepada Mahathir dan mendoakan dia dan istrinya senantiasa sehat.

Raja Malaysia menunjuk Muhyiddin karena dianggap mampu memimpin mayoritas parlemen. Namun, Mahathir menganggapnya tidak demikian. Mahathir mengklaim, dialah yang didukung mayoritas di parlemen. Makanya, dia akan melakukan perlawanan.

Berita Terkait : Begitulah Politik

Dalam konferensi pers, Mahathir merilis 114 anggota parlemen yang mendukungnya sebagai PM Malaysia. Dengan 222 kursi di parlemen, perdana menteri hanya perlu mendapatkan dukungan minimal 112 suara untuk menjadi mayoritas.

Mahathir menyatakan, seluruh dukungan itu dibuktikan dengan surat dan menekan deklarasi dukungan. "Langkah selanjutnya adalah kami bisa mengajukan mosi tak percaya kepadanya," ucap Mahathir seperti dikutip Free Malaysia Today, kemarin.

Mahathir mengatakan, ia telah menyiapkan surat untuk menjelaskan posisinya kepada Yang Dipertoan Agung. "Saya harap Raja akan menerima surat dan penjelasan saya," kata Mahathir.

Mahathir menyerukan diadakan sidang luar biasa parlemen untuk membuktikan klaim Muhyiddin. Selanjutnya, kata Mahathir, jika pemerintah baru tidak segera dibentuk dalam waktu cepat, bisa dikatakan PM tidak mendapat dukungan penuh.

Merujuk Konstitusi Malaysia, seorang PM harus mendapat dukungan dari mayoritas parlemen tanpa perlu memandang dari mana partai politiknya. Jika parlemen tidak diizinkan untuk menggelar sidang luar biasa, artinya PM berusia 72 tahun tersebut tidak bisa mendapat dukungan yang cukup.

Berita Terkait : Terpilih Jadi PM Malaysia ke-8, Muhyiddin Sujud Syukur di Rumahnya

Namun, klaim Mahathir ini dimentahkan anggota Dewan Tertinggi PPBM, Rais Yatim. Dia mengatakan, dukungan 114 anggota parlemen untuk Mahathir tidak akan mencegah Muhyiddin menjadi PM Malaysia.

Mantan menteri hukum ini mengatakan, Konstitusi Federal menyatakan bahwa Raja dapat menunjuk PM setelah dia merasa puas si calon mendapat dukungan mayoritas dari parlemen. "Tidak perlu bagi Raja untuk mengkonfirmasi kembali angka-angka secara individual," katanya, kepada Free Malaysia Today. [FAQ]