Kedutaan Besar Jepang di Jakarta Sambut Perawat dan Caregiver

Kedutaan Jepang di Jakara menyambut para perawat dan caregiver Indonesia yang telah kembali ke tanah air. (Foto Nanda Prananda/RM)
Klik untuk perbesar
Kedutaan Jepang di Jakara menyambut para perawat dan caregiver Indonesia yang telah kembali ke tanah air. (Foto Nanda Prananda/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kedutaan Besar Jepang menyambut para perawat dan caregiver yang telah kembali ke tanah air, pekan lalu. Mereka telah menyelesaikan tugas di Jepang berdasarkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang (IJEPA).

Berdasarkan IJEPA yang diberlakukan pada Juli 2008, Pemerintah Jepang membuka penerimaan calon perawat medis dan kandidat perawat bagi orang jompo (caregiver) dari Indonesia. Melalui program ini, para calon perawat dikirim ke Jepang untuk menjalani pelatihan keterampilan dan kebahasaan, hingga mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikasi.

Selain menyambut kehadiran mereka, di Midplaza, Jakarta, Jumat (28/2). Kedutaan Besar Jepang juga membuka bursa lapangan kerja, bagi mereka yang berminat untuk bekerja dengan memanfaatkan pengalaman di rumah sakit, atau panti jompo di Jepang.

Atase Kementerian Kesehatan Ketenagakerjaan Jepang Kazushige Ashida mengatakan, para pelamar di bursa kerja ini diharuskan bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang. Ia mengungkapkan banyak alumni IJEPA yang ikut di acara ini.

Berita Terkait : Pegadaian Bantu Korban Banjir Di Jakarta

"Jadi ini semacam job fair, dan ada perusahaan Jepang yang yang mencari karyawan bisa berbahasa Jepang jadi alumni IJEPA bisa melamar pekerjaan di sini,” kata Ashida di Midplaza, Jakarta.

Ashida mengungkapkan, setidaknya ada 13 perusahaan Jepang yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Perusahaan itu tak hanya bergerak di bidang tenaga perawat, ada juga untuk bidang lainnya. Rencananya para pelamar yang diterima bisa juga bekerja di Indonesia.

"Ini perusahaan Jepang yang berbasis di Indonesia. (Kerjanya) di Indonesia, basis mereka kerjanya di Indonesia. Selain perusahaan Jepang, ada LPK dan semacam sekolah kursus bahasa yang partisipan di sini,” ujar Ashida.

Ashida menambahkan, dalam kesempatan ini, Kedutaan Besar Jepang hanya sebagai penyelenggara, sehingga tidak bisa ikut menentukan lolos atau tidaknya peserta. "Betul, pihak Kedutaan Jepang hanya penyelenggara acara dan mereka diterima kerja atau tidak itu terserah perusahaan atau LPK atau pihak yang mencari karyawan,” terangnya.

Berita Terkait : Banjir Membuat Perjalanan KA Daop I Jakarta Terganggu, Ini Perubahannya

Tenaga kerja Indonesia yang sebelumnya mengikuti program di bawah skema IJEPA, bisa mendapat slot pekerjaan dari program program tenaga kerja berkeahlian khusus (specified skilled worker/SSW), tanpa perlu mengikuti ujian teknis dan bahasa Jepang.

Sementara itu, Direktur Pembangunan Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan RI, Roostiawati mengungcapkan terima kasih atas nama Pemerintah Indonesia, karena tidak hanya memberi mereka kesempatan kerja di sana, tetapi juga membantu WNI mendapatkan kerja di sini.

Sementara itu terkait program SSW,R menyatakan, Indonesia masih menunggu rincian kuota dan jenis pekerjaan spesifik yang ditawarkan pemerintah Jepang melalui program tersebut. Seperti diketahui, pada akhir 2018 Pemerintah Jepang membuka program SSW kepada delapan negara di Asia, antara lain Indonesia, Vietnam, dan China. Progran tersebut memiliki kuota sekitar 345.000 slot tenaga kerja dari 14 sektor, seperti keperawatan, manufaktur, konstruksi bangunan, dan penerbangan.

"Angka 345.000 sekian itu baru perencanaan tenaga kerja Jepang, belum kebutuhan labour market (pasar kerja), dan ini harus dibedakan. Dari 14 sektor yang disediakan, Pemerintah Indonesia meminta kepada Pemerintah Jepang agar merincikan apa saja deskripsi pekerjaannya," ujarnya.

Berita Terkait : Dukung Ketahanan Pangan di Jakarta, Bank DKI Perkuat Sinergi BUMD

Misalnya, kata Roostiawati, pada sektor konstruksi Jepang membutuhkan 40.000 tenaga kerja. Namun belum ada rincian posisi pekerjaan apa saja yang tersedia, sementara pencari kerja di Indonesia harus mengetahui secara jelas posisi yang dilamar.

Lebih lanjut, menurut Roostiawati, Jepang sudah mulai menanggapi permintaan ini dengan mengumpulkan asosiasi pencari tenaga kerja. Hanya saja dari pihak asosiasi belum menyertakan rincian pekerjaan yang mereka perlukan, masih berupa perencanaan.

"Kami sudah buka situs ayokitakerja.kemnaker.go.id, perusahaan-perusahaan Jepang bisa mengakses untuk membagikan lowongan, pencari kerja juga bisa masuk sana. Melalui sistem, mereka akan bisa dipertemukan. Tapi sampai saat ini, perusahaan yang mendaftar masih sangat sedikit," kata dia menambahkan. [NDA]