AS Pangkas Jumlah Wartawan China, Ini Pembalasan

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo
Klik untuk perbesar
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintahan Donald Trump memerintahkan lima kantor berita China untuk memangkas jumlah staf berkewarganegaraan China yang dipekerjakan di Amerika Serikat. Langkah tersebut menyusul pengusiran wartawan AS di China.

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mencatat, media China tersebut bukan media independen tapi media pemerintah. Perusahaan media yang terkena pembatasan staf yakni Xinhua News Agency, China Global Television Network, China Radio International, dan China Daily Distribution Corp. Hai Tian Development USA juga masuk dalam daftar pembatasan karyawan, tetapi tidak perlu mengurangi staf karena hanya memiliki dua staf warga China.

Dilansir Financial Times, Selasa (3/3), pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan, mulai 13 Maret mendatang, kantor berita China hanya dibolehkan mempekerjakan 100 orang staf yang sebelumnya diizinkan 160 oramg. Masing-masing media tersebut harus menyerahkan nama-nama staf yang akan berhenti ke Departemen Luar Negeri paling lambat 6 Maret.

Berita Terkait : AS Tak Sekebal RI

Ketentuan itu linier dengan persyaratan China yang membatasi wartawan asing selama 30 hari sebelum mereka harus mencari perpanjangan.

"Tujuan kami adalah timbal balik. Harapan kami bahwa tindakan ini akan memacu Beijing untuk mengadopsi pendekatan yang lebih adil dan timbal balik kepada AS dan pers asing lainnya di China," kata Menteri Luar Negeri Mike Pompeo.

Pompeo menambahkan, tidak akan memberlakukan pembatasan pada kegiatan jurnalistik media China di AS. Perusahaan media masih bisa mempekerjakan orang AS atau warga negara lain sebanyak yang mereka mau. Warga China yang bekerja dengan media AS tidak terpengaruh kebijakan tersebut.

Berita Terkait : AS Laporkan Kasus Kematian Pertama Akibat Virus Corona

"Selama bertahun-tahun, pemerintah Republik Rakyat China telah memberlakukan pengawasan, pelecehan, dan intimidasi yang terhadap jurnalis Amerika dan asing lainnya yang beroperasi di China. Presiden (Donald) Trump telah menjelaskan bahwa pembatasan Beijing terhadap jurnalis asing salah arah. Pemerintah AS telah lama menyambut wartawan asing, termasuk wartawan RRC, untuk bekerja secara bebas dan tanpa ancaman," terang Pompeo.

Menurut pejabat senior Departemen Luar Negeri yang menolak disebutkan namanya, untuk Xinhua dialokasikan 59 visa untuk warga negara China, CGTN 30, China Daily nine dan China Radio dua. Pembatasan tidak akan berlaku untuk karyawan AS.

"Jika Anda ingin mempekerjakan banyak orang Amerika, lakukanlah," kata pejabat itu. 

Baca Juga : Warga Minta Perbaikan Total, Jangan Setengah-setengah

Duta Besar China untuk PBB, Zhang Jun, mengutuk langkah AS itu. "Kami tidak berpikir pantas bagi Amerika Serikat untuk mengambil langkah-langkah untuk mengganggu pekerjaan wartawan yang datang dari China."

Langkah AS itu setelah China bulan lalu mengusir tiga wartawan Wall Street Journal, dua orang Amerika dan seorang Australia. China menyatakan pihaknya mengambil tindakan karena surat kabar WSJ tidak meminta maaf atas tajuk diskriminatif rasial yang bertuliskan "China is the Real Sick Man of Asia" mengenai tindakan keras pemerintah China terhadap Muslim Uighur di provinsi Xinjiang dan muncul di kolom pendapat tentang perjuangan bangsa melawan virus corona.

China berada di peringkat 177 dari 180 negara dalam indeks Kebebasan Pers Dunia 2019, turun dari 176 pada 2018. AS juga merosot di peringkat yang dilakukan kelompok sipil Reporters Without Borders ke nomor 48 di 2019 dari nomor 45 pada 2018. [MEL]