Mohammad Azad, Dubes Iran Untuk Indonesia

Memproduksi dan Menyimpan Senjata Nuklir Haram Hukumnya

Dubes Iran Untuk Indonesia Mohammad Azad saat berkunjung ke Redaksi Rakyat Merdeka, Selasa (3/3). (Foto: Wahyu Dwi Nugroho/RM)
Klik untuk perbesar
Dubes Iran Untuk Indonesia Mohammad Azad saat berkunjung ke Redaksi Rakyat Merdeka, Selasa (3/3). (Foto: Wahyu Dwi Nugroho/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Terbuhunya Jenderal Qasem Soleimani oleh pasukan AS, 3 Januari lalu membuat Iran dan rakyatnya marah. Mereka melakukan protes sampai mengibarkan bendera merah di Masjid Jamkaran, di Qom, salah satu kota besar di Iran. Ketegangan pun terjadi. Militer iran sempat meluncurkan rudal ke markas tentara AS di Irak.

Sempat ada kekhawatiran akan terjadi perang dunia ketiga atas peristiwa ini. Sebab, Iran terlihat begitu keras pada AS setelah tewasnya Jenderal Garda Revolusi mereka.

Apakah betul Iran ingin balas dendam dan perang dengan AS? Saat berkunjung ke dapur Rakyat Merdeka, kemarin, Dubes Iran untuk Indonesia, Mohammad Azad, menerangkan makna bendera merah itu. Azad juga sempat bicara mengenai wabah virus corona. Berikut obrolan lengkapnya:

Warga Iran bereaksi dengan mengibarkan bendera merah setelah Solaimani tewas. Apakah itu bertanda akan terjadi peperangan besar?

Buat kami, warna merah itu melambangkan darah. Ketika bendera merah dikibarkan, artinya darah tersebut ke luar dari seseorang yang mati syahid.

Bukan suatu upaya balas dendam atau persiapan berperang?

Umumnya, warna merah itu sangat identik dengan syuhada atau orang orang yang mati syahid. Sekarang, peristiwa ini seperti dilupakan Iran.

Baca Juga : Negara Pancasila (1)

Beritanya juga hilang begitu saja. Bagaimana itu?

Tentu Iran bukan negara yang mengambil kebijakannya berdasarkan dengan cara emosional. Tidak. Langkah dan tindakan kami berdasarkan perkembangan logis dan rasional. Iran selalu menjadi pemain yang rasional di kawasan dalam mengambil kebijakan sesuai akal sehat.

Kabarnya Iran punya senjata mematikan yang disembunyikan di bawah tanah. Benar?

Itu hanya sebuah kekhawatiran yang biasa kami saksikan di kawasan. Dari semua tuduhan itu, tentunya ada pihak di kawasan kami yang mendapatkan legitimasinya. Jika ada yang mengatakan Iran punya senjata pemusnah massal atau apa pun namanya itu, merupakan sebuah ancaman yang dituduhkan ke negara kami. Tujuannya, untuk legitimasi gerakan mereka dan menciptakan pasaran yang laris bagi penjualan senjata mereka di sejumlah kawasan potensial.

Maksudnya?

Berdasarkan dari berbagai macam laporan Internasional membuktikan, 70 persen persenjataan yang diproduksi negara Barat itu dijual ke kedua kawasan, yakni Asia Pasifik dan Timur Tengah. Tentu, senjata nuklir atau pemusnah massal atau apa pun namanya, itu hukumannya haram di negara kami. Baik produksi, penyimpanan, termasuk nuklir hukumnya, haram.

Tuduhan seperti ini adalah tuduhan yang berangkat dari sebuah rasa ketakutan. Terkadang, kami menyaksikan rasa itu merupakan rasa yang luar biasa yang membuat mereka bereaksi secara berlebihan. Bisa mengancam mereka sendiri dan juga mengancam kawasan sekitar.

Baca Juga : Jakarta Diminta Nyontek Singapura dan Tokyo

Soal wabah virus corona, bagaimana Iran menanganinya?

Virus corona merupakan salah satu isu yang perlu dikelola dengan baik. Sejak hari pertama kemunculan corona, Iran telah melakukan respons cepat. Setiap harinya terdapat pertemuan yang dipimpin secara langsung oleh Wapres Iran bersama menteri Kesehatan dan menteri lainnya. mereka membahas bagaimana caranya menangani corona.

Sejauh ini, terdapat 1.500 orang yang suspect corona. Sebanyak 300 berhasil disembuhkan dan 66 meninggal dunia. Kami melakukan respons cepat jika ada indikasi seseorang suspect corona. untuk mengatasi itu, kami bekerja sama dengan China dan sempat menerima tawaran deteksi virus corona. Jadi, ini hal yang kami lalukan setiap harinya bekerja sama dengan negara lain.

Apakah sekolah dan universitas diliburkan?

Untuk sekolah dan universitas tentu kami liburkan secara bertahap. Digantikan dengan metode pelajaran melalui televisi nasional. Jadi, anak anak sekolah bisa belajar melalui program televisi nasional. Banyak hal lainnya yang dilakukan Iran untuk mengurangi dampak corona. Khususnya di sektor industri dan UMKM dengan menghilangkan pajak selama corona masih berlangsung.

Bagaimana perkembangan Wapres Iran yang suspect corona? Sebenarnya di Iran itu ada beberapa wapres. Meski demikian, Iran hanya memiliki satu wapres yang kedudukannya sama seperti Wapres di indonesia. Untuk ibu Masoumeh Ebtekar adalah salah satu Wapres Iran Bidang Keluarga dan Anak. Ada pejabat lainnya yang suspect corona yaitu Wakil Menteri Kesehatan, lantaran sering turun ke lapangan makanya dia terdampak.

Dua duanya sedang menjalani perawatan dan masih dalam tahap pemulihan. Tapi, juga ada satu kasus yakni Anggota Dewan Kebijaksanaan atau Kemaslahatan Iran yang meninggal karena virus corona.

Baca Juga : Virus Corona, PBSI Awasi Atlet dan Karyawan di Pelatnas Cipayung

Apa yang Anda rasakan di pemerintah Presiden Jokowi?

Saya sudah tiga kali bertugas di Indonesia. Jika saya menilai era demi era antara hubungan kedua negara, saya melihat perkembangan dan peningkatan yang dapat dirasakan. Khusunya perdagangan, perekonomian, dan kerja sama lainnya. Saya juga berharap di era sekarang ini Iran dan Indonesia bisa lebih meningkatkan kerjasama.

Bagaimana Anda memandang Presiden Jokowi?

Saya melihat Presiden Jokowi sebagai presiden yang merakyat. Presiden yang cinta kepada bangsanya dan cinta kepada kemandirian. Khususnya Presiden dari negara yang menginisiasi gerakan besar, yakni gerakan Nonblok. gerakan ini selalu mendukung negara negara yang ingin mandiri. Artinya, tidak ingin bergantung kepada pihak lainnya.

Jika saya melihat kunjungan yang mulia Presiden Jokowi ke Iran pada Desember 2016, banyak sekali hal yang bisa digali dari kedua negara, khusunya di bidang perekonomian. Sekarang, volume perdagangan antara kedua negara kurang lebih 1 miliar dolar. Kalau berbicara potensi kedua negara, nominal tersebut adalah nominal yang jauh dari potensi yang ada di Indonesia dan Iran. [UMM]