RMco.id  Rakyat Merdeka - Wabah corona di Italia semakin parah. Jumlah yang terpapar semakin banyak. Saking banyaknya, pasien di sana tidak bisa buru-buru ditangani. Bahkan, dokter dihadapkan pada situasi dilematis: harus memilih mana yang lebih dulu diselamatkan. Semoga tragedi di Italia tidak terjadi di sini. Amin.

Dr Christian Salaroli, kepala unit perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Bergamo, Italia, mengatakan, dalam kondisi wabah yang begitu parah, para dokter harus menghadapi keputusan-keputusan sulit. Mereka terpaksa membuat prioritas pasien berdasarkan usia. Bukan siapa yang datang lebih awal.

"Jika seseorang berusia 80 dan 95 tahun mengalami kesulitan pernapasan yang parah, kami kemungkinan tidak melanjutkan (penanganan)," ungkapnya, seperti dilansir BBC. "Ini adalah kata-kata yang buruk, namun sayangnya benar." 

Hal ini dibenarkan di Italia. Merujuk rekomendasi etik yang dirilis Italian Society of Anaesthesia, Analgesia, Resuscitation and Intensive Therapy (SIAARTI), dalam kondisi tertentu, seperti keterbatasan fasilitas, dokter diarahkan untuk mengutamakan pasien-pasien yang punya peluang pulih lebih tinggi.

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

Populasi penduduk lanjut usia di Italia memang tergolong tinggi. Kedua setelah Jepang. Sehingga tingkat kerentanan terpapar virus Covid-19 cukup besar. Berdarkan data dari International Institute for Applied System Analysis (IIASA) yang dirilis 2018, populasi manula dengan usia 65 tahun ke atas di Italia mencapai 22,4 persen. Itu artinya, jika total penduduk Italia sekitar 60 juta jiwa, sebanyak 13,4 juta di antaranya adalah manula. 

Jumlah pasien yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 di Italia terus bertambah. Hingga tadi malam, berdasarkan data yang dirilis John Hopkins University, jumlah yang terinfeksi mencapai 27.980 orang.

Lonjakan tertinggi terjadi pada 16 Maret, yang bertambah 18,8 ribu orang, dengan 349 orang meninggal dunia. Sementara kemarin, penambahan jumlah yang terinfeksi mulai turun menjadi 6,1 ribu orang. Yang mengerikan, seperti dilansir Reuters, Deputi Kepala Policlinico San Donato’s Intensive Care Unit, Marco Resta, mengatakan, sekitar 50 persen dari pasien terinfeksi corona di ruang gawat darurat berada dalam kondisi sekarat.

Di negara kita, belakangan, banyak juga masyarakat yang ingin memeriksakan diri karena waswas terpapar corona. Namun, tidak semuanya dapat diterima rumah sakit. Nah, sebagian yang tidak diterima ini ngomel-ngomel di medsos, yang kemudian viral dan menimbulkan kegaduhan.

Baca Juga : RUU Cipta Kerja Semoga Tidak Ciptakan Petaka

Beberapa rumah sakit beralasan, tidak dapat menyanggupi permintaan pasien yang ingin melakukan tes Covid-19 karena keterbatasan alat. Mereka mengantisipasinya dengan menerapkan pembatasan jumlah pasien atau menolak sama sekali. Pasien yang tidak diperiksa sebagian besar mengaku disarankan untuk melakukan isolasi diri secara mandiri atau self isolation di rumah masing-masing.

Meski kenyataannya begitu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, memastikan, penanganan saat ini sudah lebih tertata. "Saat ini alhamdulillah sudah bisa mulai lebih tertata,” ucapnya.

Dia mengakui, untuk pemeriksaan Covid-19, masyarakat tidak bisa langsung. Harus ada indikasinya dan atas permintaan dokter. "Tidak kemudian masing-masing merasa perlu untuk minta sendiri-sendiri," ucap Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) itu.

Ia meyakini, masyarakat bisa memahami prosedur pemeriksaan virus corona. Dengan harapan, penanganan penyebaran virus corona bisa lebih sistematis tanpa kegaduhan dan kepanikan. "Mudah-mudahan," ucapnya.

Baca Juga : Hakekat Pamong Dan Prajurit

Sebelumnya, kata dia, banyak orang yang punya gejala tertular virus Corona tapi menunjukkan hasil tes negatif Corona. Karena itu, pemerintah meminta warga yang memiliki gejala corona ringan untuk melakukan isolasi diri. "Masih ada puluhan lagi yang hasilnya negatif, tapi gejalanya tidak terlalu berat. Kita minta untuk melaksanakan self-isolated di rumah," sebut Yuri. [SAR]