Bendung Covid-19, Akhirnya Inggris Raya Lockdown Tiga Pekan

Warga mengenakan masker di London, Inggris.(Foto  EPA/Andy Rain)
Klik untuk perbesar
Warga mengenakan masker di London, Inggris.(Foto EPA/Andy Rain)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson akhirnya mengeluarkan perintah penutupan wilayah (lockdown) se-antero Inggris pada Senin malam waktu setempat (23/3).

Dalam pernyataan resminya di video streaming, Boris Johnson melarang warga Inggris meninggalkan kediaman mereka "jika tidak ada keperluan mendesak."

Ini merupakan perintah larangan beraktivitas paling ketat yang pernah dilakukan Inggris pasca Perang Dunia II.

Boris Johnson berencana melakukan lockdown sepanjang tiga pekan ke depan. Penerapannya dimulai Selasa pagi (24/3). Polisi juga diterjunkan untuk membubarkan kerumunan warga.

Boris Johnson sudah menyebut keinginannya memberlakukan lockdown pekan lalu karena melihat masih banyak warga berkumpul.

Berita Terkait : Dalam 48 Jam, Selandia Baru Lockdown 4 Pekan

Johnson mengatakan perintah lockdown adalah langkah tegasnya menekan penyebaran Sars-Cov-2, keluarga virus corona yang menyebabkan Covid-19.

Semua fasilitas publik seperti pertokoan, perkantoran, pusat olahraga, sekolah, tempat ibadah wajib ditutup. Semua kegiatan yang mengumpulkan banyak orang juga dibatalkan.

"Malam ini saya memiliki perintah sederhana untuk warga Inggris. Anda hanya harus berdiam di rumah," ujar Johnson dalam pernyataan yang disiarkan BBC.

"Ini merupakan hal penting bagi kita. Kita harus hentikan penyebaran penyakit," sambungnya.

Warga diizinkan keluar rumah untuk berbelanja kebutuhan harian, mencari pertolongan medis dan pergi bekerja bagi mereka yang harus keluar rumah.

Berita Terkait : Lockdown Tak Cukup Tangkal Covid-19, Lakukan Ini Juga

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab juga sudah mengimbau semua warga Inggris yang berlibur ke luar negeri untuk segera kembali.

"Jika anda sedang berlibur di luar negeri, segeralah pulang selagi masih ada kesempatan. Hampir semua penerbangan di berbagai negara mulai berhenti melayani penerbangan untuk sementara," ingat Raab.

Per Senin (23/3) jumlah korban meninggal akibat virus Corona di Inggris bertambah menjadi 335 orang. Jumlah total kasus virus mencapai 6.650 kasus.

Kenapa Lama

Boris termasuk telat menerapkan lockdown dibandingkan negara Eropa lain yang telah terdampak. Ia dihujani kritik lembek menangani laju wabah Covid-19.

Berita Terkait : Implikasinya Luas, Lockdown Belum Perlu

Dilansir CNN, ada suatu hipotesis bahwa itu karena personal Boris Johnson yang tidak suka mengekang kebebasan orang. Dalam karier politiknya, Boris Johnson tidak suka memberlakukan "Nanny State", kondisi bahwa negara memerintahkan warganya. Ia ingin warga negara yang punya inisiatif.

Pada 2014 di kolom surat kabar, Boris Johnson menanggapi soal usulan larangan merokok: "Kita seharusnya punya akal sehat mendengarkan orang lain sebelum bertindak demi kepentingan mereka." [DAY]