Korban Covid-19 di China Lebih Sedikit, AS Penasaran

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying. (Foyo Associated Press)
Klik untuk perbesar
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying. (Foyo Associated Press)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat masih penasaran jumlah korban Covid-19 di China lebih sedikit. Sampai tim intelijen AS menuding China menyembunyikan fakta jumlah korban dan penyebab Covid-19.

China telah membantah tudingan. Namun China menilai tudingan AS hanya untuk mengalihkan perhatian publik terhadap besarnya jumlah pasien positif Covid-19 di Negeri Paman Sam itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying menyebut, China sangat terbuka soal informasi Covid-19. "Kami sangat transparan seputar penyebaran virus ini. Kami langsung mengabarkan mengenai penyebaran sejak di Wuhan," ujar Hua dikutip Bloomberg, Kamis (2/4).

Berita Terkait : China Ingin Menguji Keampuhan Vaksin Covid-19 di Luar Negeri, Kenapa?

"Sejumlah orang hanya ingin menyalahkan pihak lain. Apakah ada yang bisa menjelaskan apa yang AS lakukan dalam dua bulan terakhir?" lanjut juru bicara perempuan itu.

Covid-19 dari Sars-CoV-2, keluarga virus corona bermula di Kota Wuhan, Provinsi Hubei China pada akhir 2019, tetapi Negeri Tirai Bambu sejauh ini hanya melaporkan sekitar 82.000 kasus dan 3.300 korban jiwa akibat corona, menurut data yang dihimpun Johns Hopkins University.

Jumlah kasus di China jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sekitar 189.000 kasus positif dan lebih dari 4.000 korban jiwa di AS. Hal itu  mengukuhkan AS sebagai negara paling terdampak virus mematikan ini di dunia.

Berita Terkait : Jubir Covid-19: Waspada, Banyak Penularan Tak Langsung Lewat Tangan

Hingga berita ini diturunkan, baik staf komunikasi di Gedung Putih maupun di kedutaan besar China di Washington belum memberikan komentar. Kepada CNN, pada Rabu (1/4), Wakil Presiden AS Mike Pence menyatakan, respons terhadap wabah Covid-19 bisa lebih baik jika China lebih terbuka.

Meski China akhirnya memberlakukan lockdown yang ketat, ada keraguan yang  besar terhadap angka-angka yang dilaporkan. Pemerintah China telah berulang kali merevisi metodologinya untuk menghitung jumlah kasus dan selama berminggu-minggu mengecualikan pasien tanpa gejala.

Pada Selasa (31/3), negara ini akhirnya menambahkan lebih dari 1.500 kasus tanpa gejala ke dalam jumlah total kasusnya. [DAY]