Terus Saingan Sama AS, China Mau Nambah Anggaran Militer

Ilustrasi pasukan bersenjata China. (Foto: Reuters)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi pasukan bersenjata China. (Foto: Reuters)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pertikaian China dengan Amerika Serikat tidak sekadar di bidang perdagangan. Kedua negara ini juga suka 'pamer' kekuatan militer dengan satu sama lain.

Hubungan China-AS memang mencapai titik terendah di tengah perang dagang, isu kebebasan sipil, Taiwan, serta konflik atas klaim teritorial Beijing di Laut China Selatan.

Sepanjang 2020, pesawat pengebom AS melakukan 40 kali penerbangan di atas wilayah sengketa Laut China Selatan dan Laut China Timur. Aksi pamer AS ini terhitung tiga kali lebih banyak dari 2019. Selain itu kapal perang Angkatan Laut AS sudah berlayar empat kali di perairan LCS.

Paman Sam mengklaim mereka mendukung perairan internasional yang bebas. Namun China berulang kali menegaskan bahwa AS sudah menyalahi wilayah kedaulatan Negeri Tirai Bambu. Maklum, China memang mengklaim nyaris semua perairan LCS yang konon memiliki simpanan mineral yang sangat banyak.

Berita Terkait : Makan Umpan Ikan, Minum Air Laut

Klaim China ini sudah berulang kali menyulit kemarahan negara-negara di Asia Tenggara yang memiliki klaim atas LCS. Untuk menandingi kekuatan militer AS, para pemimpin militer China berjuang menambah anggaran belanja mereka.

Rencana tersebut akan diumumkan dalam Kongres Rakyat Nasional (NPC) yang dimulai Jumat ini (22/5). Militer China membutuhkan lebih banyak sumber daya terkait meningkatnya ancaman di dalam dan luar negeri. Di luar negeri, mereka berhadapan dengan ancaman dari Amerika Serikat.

"Beijing merasa ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh AS dan negara-negara asing lain meningkat, sehingga Tentara Pembebasan Rakyat menginginkan peningkatan anggaran untuk mendukung modernisasi militer dan pelatihan tempur," ujar pengamat militer yang berkanror di Hong Konh, Song Zhongping, kepada SCMP, Rabu (20/5).

Sumber militer China mengatakan, pasukan pembela China/ PLA mengharapkan kenaikan 7,5 persen anggaran militer tahun ini dibandingkan pada 2019. Sumber lain mengharapkan kenaikan 9 persen.

Baca Juga : Demi Keamanan, Bahar Smith Dipindahkan Ke Nusakambangan

China mengumumkan pengeluaran pertahanan 1,18 triliun Yuan atau sekitar Rp 2.600 triliun saat NPC pada Maret 2019. Jumlah itu merupakan yang terbesar kedua di dunia setelah AS.

Namun Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm memperkirakan pengeluaran pertahanan China sebesar 261 miliar dolar AS, sedikit lebih dari sepertiga anggaran militer AS yang mencapai 732 miliar dolar.

Tampaknya kenaikan anggaran itu akan berjalan mulus. Presiden Xi Jinping, selaku pemimpin Komisi Militer Pusat China, pada Januari lalu memerintahkan PLA untuk meningkatkan kapasitas tempurnya.

Saat itu hubungan dengan AS sudah memburuk. Bekas instruktur di akademi angkatan laut di Taiwan Lu Li-shih mengatakan perselisihan antara Beijing dan Washington adalah yang terburuk sejak dimulainya kembali hubungan diplomatik pada 1970-an.

Baca Juga : LPEI Salurkan Bantuan Wastafel Portable dan Paket Sembako Ke Warga Muara Angke

Sementara itu, Collin Koh, seorang peneliti di Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam di Universitas Teknologi Nanyang Singapura, mengatakan PLA dan militer AS memiliki saluran komunikasi.

"Hubungan militer bilateral .mungkin tidak selalu efektif, tetapi setidaknya berfungsi sebagai katup tekanan yang ada untuk mencegah dan berpotensi mengurangi risiko yang timbul dari meningkatnya ketegangan antara Beijing dan Washington," ungkap Koh. [DAY]