RMco.id  Rakyat Merdeka - Pencetus Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini dalam sebuah pesan pada bulan suci Ramadhan 1979 menetapkan setiap Jumat terakhir dari bulan suci ini sebagai Hari Quds dan menyebutnya sebagai hari hidupnya Islam.

Hari Quds, secara resmi disebut Hari Quds Internasional, Hari Quds Sedunia, untuk menunjukkan dukungan untuk Palestina dan menentang Zionisme dan Israel.

Imam Khomeini (Ayatollah Khomeini) mengatakan,"Hari Quds adalah hari Islam. Hari Quds adalah sebuah hari dimana Islam harus dihidupkan… Hari Quds adalah sebuah hari dimana kita harus memperingatkan kepada seluruh super power bahwa Islam tidak akan lagi tunduk di bawah dominasi dan kontrol Anda melalui pion-pion jahat Anda."

"Hari Quds adalah hari kehidupan Islam. Umat Islam harus mulai bangun dan menyadari kekuatan yang mereka miliki.”

Hari ini, setelah lebih dari 40 tahun berlalunya pesan penting ini, semua bangsa merdeka di dunia mengetahui dan menyadari bahwa Quds adalah lembaran penuh darah, keberanian, dan muqawamah (perjuangan) Islamiyah. Setiap halamannya dipenuhi epik yang tidak terlupakan, teriakan tanpa batas dan kemazluman tanpa ujung.

Quds adalah kiblat pertama Umat Islam dan tambatan hati kaum muslimin saat ini. Kita hidup bersama Quds dalam sepanjang sejarah dan selalu menjadi penjaga kesucian Quds.

Baca Juga : Cerita Sandiaga Uno Bangkit Saat Krisis Moneter 1998

Quds geografi cinta, histori pengorbanan dan mihrab munajat yang dipenuhi lumuran darah. Hari Quds telah dikenal di dunia, batasnya tampak dalam cahaya dan menembus relung hati dan jiwa bangsa-bangsa di dunia yang berfikir untuk merdeka, terutama negara-negara Islam.

Zionis memerupakan sebuah fenomena jahat dan produk bersama kolonialisme kuno Inggris-Barat dan elemen-elemen kultural, ekonomi, sosial, politik dari arogansi global. Pasca Perang Dunia I mereka masuk ke Palestina dengan propaganda akidah tanpa dasar, seperti “kembali ke tanah yang dijanjikan” dan “tanah tanpa bangsa untuk sebuah bangsa tanpa tanah”. Selangkah demi selangkah mereka membentuk struktur negara tidak sah dengan slogan “dari Nil hingga Efrat”.

Oleh karena itu, dengan melihat kondisi Palestina dan kawasan saat ini, bangsa-bangsa dan negara-negara Muslim harus lebih memperhatikan persatuan dan kesatuan menghadapi rezim Zionis, menjaga kesadaran penuh terhadap musuh bersama ini, dan waspada terhadap konspirasi rezim dan pendukungnya untuk memecah belah umat Islam, dan ingin supaya kita melalaikan isu Palestina sebagai isu pertama dunia Islam.

Juga tidak kalah penting mencegah terwujudnya niatan jahat mereka seperti Perjanjian Abad Ini karena apabila sampai terwujud akan menjadi kerugian abadi bagi Palestina dan keuntungan besar bagi para perampas dan penjajah bumi Palestina ini.

Perjanjian Abad Ini adalah istilah yang merujuk rencana perdamaian Timur Tengah yang diumukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Washington DC, Januari lalu.

Perjanjian Abad Ini secara luas dikritik sebagai upaya melegitimasi pendudukan Israel atas tanah-tanah Palestina.

Baca Juga : Baleg: RUU Cipta Kerja Untuk Kesejahteraan Rakyat

Pastinya kebencian terhadap Zionis memerupakan sebuah realita yang tidak pernah dapat dihilangkan dari budaya dan keyakinan umat Islam di dunia. Sistem Zionisme adalah tambal sulam pelanggaran yang dipaksakan terhadap tubuh dunia Islam dengan uang, kekuasaan, paksaan, dan tipu muslihat.

Hari Quds Internasional sebagai peninggalan berharga Imam Khomeini dalam menciptakan kapasitas untuk membela bangsa Palestina dan Baitul Maqdis.

Hari Quds Dunia menjadi medan proklamasi berlepas diri dari rezim penjajah dan perampas Zionis dan penegasan sikap umat Islam melawan penjajahan. Hari Quds untuk mengekspresikan kebencian terhadap konspirasi arogansi dan hari manifestasi solidaritas dan empati seluruh umat Islam dunia.

Hari untuk memberikan motivasi kepada para pejuang Palestina bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan melawan para penjajah Quds, seluruh kaum muslimin dunia senantiasa membantu dan membela mereka.

*Sikap Indonesia 

Indonesia juga telah bersikap sesuai dengan UUD 45. Dalam UUD 45 disebutkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapus karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Baca Juga : Kementan Berikan Sertifikat Kesesuaian SNI Embrio Ternak kepada BET Cipelang

Tak hanya tertera dalam UUD 45, sikap tegas RI juga acap disampaikan Presiden Jokowi seperti terkait hal-hal berikut ini: 1) RI konsisten perjuangkan Palestina, 2) Diplomasi RI bela Palestina, 3) RI tetap bersuara keras terkait dengan masalah atau nasib bangsa Palestina, 4) Peran penting RI untuk mempersatukan negara-negara Islam anggota OKI guna mendukung kemerdekaan Palestina.

Akhirul kalam, kita sampaikan salam kepada Quds, bumi kenabian, sumber cahaya, tempat mi’raj manusia kepada Tuhannya, salam untuk jantung dunia Islam dan kecintaan jutaan manusia merdeka. Limpahan salam kami tercurah untukmu wahai bumi pengorbanan dan syahadah yang telah mendidik banyak manusia yang ikhlas dan merelakan jiwanya.

*Mehrdad Rakhshandeh Yazdi, Konselor Kebudayaan Iran di Jakarta