RMco.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat terus menggertak China di Laut China Selatan. Terbaru, Amerika kerahkan tiga kapal perang lalu lalang di perairan yang jadi sengketa para “gajah” itu. Digertak begitu, China tak tinggal diam, tapi menunjukkan diri seperti cacing kepanasan. 

Ini merupakan kali pertama AS mengerahan tiga kapal perangnya dalam kurun waktu 3 tahun. Tiga kapal induk itu adalah USS Ronald Reagan dan USS Theodore Roosevelt yang berpatroli di Samudera Pasifik bagian barat. Sedangkan kapal perang USS Nimitz bergerak di sisi timur. Tiga kapal perang tersebut berbobot 100 ton. 

Unjuk kekuatan yang dilakukan AS di Laut China Selatan, ditengarai masih ada hubungannya dengan pandemi Covid-19. AS merasa kecewa dengan respon China yang kurang terbuka terkait pandemi tersebut. “Kapal induk dan kelompok kapal tempur merupakan simbol kekuatan angkatan laut AS. Saya sangat bersemangat dengan pengerahan tiga kapal induk sekaligus saat ini,” kata Direktur Operasi Komando Indo-Pasifik di Hawaii, Laksamana Stephen Koehler seperti dilansir AP

Berita Terkait : Soal LCS, AS Ancam Jatuhkan Sanksi ke China

Selama ini, lanjut dia, China perlahan dan secara metodis membangun pospos militer di Laut China Selatan. Termasuk menempatkan sistem rudal dan peperangan elektronik di sana. Sedangkan AS dan sekutu serta negaranegara mitranya di kawasan Indo-Pasifik telah meningkatkan operasi di dekat pulau-pulau buatan China guna merangsang kekuatan China. 

Pekan lalu, Global Times, yang merupakan media Partai Komunis, menyatakan kehadiran tiga kapal induk ini menjadi ancaman serius bagi pasukan China di kawasan Laut Cina Selatan. “Dengan mengerahkan tiga kapal induk ini, AS berupaya mendemonstrasikan kepada regional dan dunia bahwa AS masih menjadi kekuatan angkatan laut,” kata Li Jie, analis isu angkatan laut berbasis di Beijing, seperti dilansir Global Times

Dia mengatakan tiga kapal perang milik AS bisa masuk ke Laut China Selatan dan mengancam pasukan China di Kepulauan Xisha, serta Nansha atau Kepulauan Paracel dan Spratly. Global Times juga mengklaim kapal perang AS bisa melintasi perairan sekitar Laut Cina Selatan. “Sehingga AS bisa melakukan hegemoni politiknya,” tambah Li Jie. 

Berita Terkait : Paman Sam Tolak Klaim China di Laut China Selatan

Lantas apa respons China? Kata dia, militer China juga bakal menggelar latihan militer untuk menunjukkan kekuatan senjata perang yang dimilikinya. “China memiliki senjata pembunuh kapal perang seperti rudal balistik antikapal DF-21D dan DF-26,” ucapnya. 

Direktur China Power Project di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Bonnie Glaser mengatakan, langkah yang diambil AS itu untuk menakut-nakuti China. Selain itu juga untuk melakukan militerisasi di pulau buatan di Laut China Selatan. 

“Ada beberapa indikasi dalam tulisantulisan China bahwa Amerika Serikat dihantam keras oleh Covid-19, bahwa kesiapan militer rendah. Jadi mungkin ada upaya Amerika Serikat untuk memberi sinyal kepada China bahwa mereka tidak boleh salah perhitungan,” cetus Glaser seperti dilansir AP

Berita Terkait : Siapkan Benteng Pertahanan Di Semua Daerah Perbatasan

Seorang peneliti senior di PLA Naval Military Studies Research Institute, Zhang Junshe mengatakan, Angkatan Laut AS terakhir kali mengirim tiga kapal induk ke wilayah tersebut pada 2017 silam. “Meskipun bukan rahasia umum lagi AS mengerahkan tiga kapal perangnya di Pasifik Barat, tapi terakhir kali terjadi tiga tahun lalu. Jadi ini bukan berita baru,” ungkap Junshe. 

Angkatan Laut AS memang kerap kali menyebar kapal perangnya di seluruh dunia. Namun tidak banyak dipublik media. “Eksposur media terhadap kejadian di Laut China Selatan tinggi sekali. Ini patut diperhatikan karena mewujudkan kurangnya kepercayaan AS,” imbuhnya. [UMM]