RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menerima hasil survei yang menjagokan calon presiden Partai Demokrat, Joe Biden. Namun, ia yakin menang jika melihat hasil jajak pendapat bidang ekonomi.

Tercermin dari sejumlah survei, Biden telah membuka peluang kemenangan di beberapa negara bagian seperti Wisconsin, Pennsylvania, Florida, dan Michigan. Ini merupakan negara bagian yang dimenangkan Trump pada 2016. Meski begitu perlu diketahui, sebagian besar warga Paman Sam yakin, Trump lebih mumpuni menangani masalah ekonomi dibanding Biden. S

teranyar Wall Street Journal/NBC News menunjukkan, 54 persen pemilih indipenden mengatakan, mereka mempercayai Trump untuk menangani ekonomi. Hanya 45 persen yang meyakini Biden.

Jajak pendapat senada juga didapat CNBC. Trump masih lebih disukai daripada Biden dalam penanganan ekonomi.

“Saya tidak akan gagal jadi presiden hanya gara-gara karena ada orang yang tidak mencintai saya. Semua saya lakukan karena saya hanya mengerjakan tugas,” ujar Trump seperti dikutip Yahoo News, kemarin.

Baca Juga : 2/3 Rakyat Amerika Tak Percaya Kebijakan Trump Soal Covid-19

Trump beralasan, sebelum pan￾demi Covid-19 melanda, kondisi ekonomi di negerinya tidak ada masalah. “Angka lapangan pekerjaan dan ekonomi berada di angka terbaik,” katanya lagi.

“Joe Biden menang di sejumlah survei. Itu berarti dia bakal jadi presiden survei saja. Sementara saya kalah di sejumlah survei gara-gara beberapa orang yang tidak menyukai saya,” sambungnya.

Meski menerima hasil survei, Trump tetap mengejek Biden. Trump menyebut Biden terlalu tua dan punya masalah ingatan serta pikun.

“Kapan pun dia bicara, dia tidak pernah bisa menyatukan lebih dari dua kalimat,” ejek Trump.

“Bukannya saya ingin jadi orang baik atau tidak baik. Pria ini tidak bisa bicara dengan benar,” sambungnya.

Baca Juga : PT LIB Gelar Virtual Meeting dengan Klub Liga 1 2020

Popularitas Jeblok

Bila dilihat dari popularitas, para politisi Republik menganggap Trump memang menurun. Popularitas Trump diyakini akan turun terus jika tidak segera melakukan perubahan besar. Bahkan, para petinggi keuangan AS bertaruh bahwa Biden bisa memenangi Pilpres AS November nanti. Yang berlangsung di tengah corona.

Dikutip CNBC, Michael Novogratz, investor ulung AS mengatakan, telah memetakan adanya perubahan pendapat dari banyak teman-teman kayanya yang awalnya yakin Trump akan menang.

Lima bulan lalu, kata Novogratz, 10 investor, 8 di antaranya yakin Trump menang. Namun kini, 60 persennya yakin untuk kemenangan Biden.

“Lima bulan lalu saya adalah satu-satunya pria yang mengira Biden akan menang,” cetus Novogratz.

Baca Juga : Gus Jazil Apresiasi IPB Hadirkan Layanan Online Belanja Sayur Dari Rumah

Dukungan untuk kemenangan Biden kebanyakan berasal dari para investor yang takut pajaknya naik. Jonathan Hartley, mantan rekanan di Goldman Sachs, menegaskan, pajak yang lebih tinggi merupakan masalah utama di Wall Street. Pajak ini akan menjadi pertimbangan utama para pengusaha untuk mendukung Biden.

“Pajak pasti berada di ba￾gian paling atas pikiran mereka mengingat peningkatan Biden dalam pemungutan suara,” kata Hartley.

Begitu juga Signum Global, perusahaan penasihat keuangan yang dipimpin Charles Myers, mengatakan, Biden bukan hanya akan menang, tetapi juga akan mengubah Senat menjadi mayoritas Demokrat. [DAY]