RMco.id  Rakyat Merdeka - Kasus virus corona di India menembus 1 juta penderita, per Jumat (17/7) waktu setempat. Pemerintah India pun menerapkan kembali lockdown di sebagian wilayah India untuk membendung penyebaran virus ini.

Kasus kematian di India juga melonjak beberapa hari belakangan. Rata-rata, lebih dari 600 nyawa melayang per hari akibat Covid-19. Data Kementerian Kesehatan yang dirilis pada Jumat mencatat, sebanyak 1.003.382 orang terinfeksi, melonjak hampir 35 ribu kasus dalam 24 jam terakhir. Sementara jumlah kasus kematian mencapai 25.602 orang, setelah ada penambahan 687 korban meninggal dalam 24 jam terakhir.

Negara Bagian Goa menjadi wilayah terakhir yang di-lockdown. Pemerintah setempat juga akan memberlakukan jam malam sampai 10 Agustus. Menteri Kepala Goa, Pramod Sawant mengatakan, lonjakan kasus di wilayahnya disebabkan kurangnya kesadaran warga dalam menerapkan protokol kesehatan. Banyak orang menghadiri pesta atau acara keramaian lainnya, dengan mengabaikan jarak sosial serta tidak menggunakan masker.

Negara bagian berpenduduk 125 juta jiwa yang terkenal dengan wisata pantainya, Bihar, juga kembali menerapkan lockdown. Demikian halnya dengan Bangalore, Tamil Nadu, Kerala, dan Assam.

Baca Juga : Imbas PSBB, Layanan Perpustakaan DKI Ditutup

India merupakan negara ketiga di dunia yang kasus virus corona-nya telah mencapai 1 juta, setelah Amerika Serikat dan Brasil. Meski demikian, jumlah kasus kematian di India masih jauh di bawah AS dan Brasil.

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah memperingatkan beberapa negara Asia Selatan kemungkinan besar juga akan menjadi pusat wabah Covid-19 berikutnya. Kasus di Pakistan dan Bangladesh juga mengalami lonjakan drastis.

"Sementara perhatian dunia telah difokuskan pada krisis yang sedang berlangsung di Amerika Serikat dan Amerika Selatan, sebuah tragedi kemanusiaan bersamaan muncul dengan cepat di Asia Selatan. Covid-19 menyebar pada tingkat yang mengkhawatirkan di Asia Selatan, rumah bagi seperempat populasi manusia," demikian pernyataan federasi tersebut

Sementara itu, hampir di berbagai sudut kota-kota India ada banyak pasien positif yang membutuhkan bantuan medis dengan segera. Sayangnya, pasokan tempat tidur, staf medis dan buruknya sistem medis, membuat banyak pasien positif di wilayah miskin terpaksa balik kanan dari instansi kesehatan.

Baca Juga : Gus Jazil Sambangi Green Canyon

BBC melaporkan, ada kenaikan 270 juta orang miskin dari 2006-2016, di mana angka kesenjangan kemiskinan terus melebar. Diketahui, 10 persen populasi di India memegang total kekayaan 77 persen populasi India. Angka ini pun terus melebar.

Di New Delhi, kesenjangan sosial bisa terlihat dengan jelas. Di pemukiman kumuh yang sulit melakukan pembatasan (social distancing), jumlah penularan Corona terus bertambah. India dinilai perlu memperhatikan kembali soal kebijakan dalam memperkerjakan pekerja non formil, yang merupakan pekerjaan hampir separuh populasi New Delhi.

Sekitar 60 persen dari 1,3 miliar warganya masuk kategori miskin. Sebanyak 21 persen di antaranya berpendapatan di bawah Rp 50 ribu per hari. Kebanyakan dari mereka bekerja di kota besar sebagai supir becak, tukang sapu, penjual sayur, tukang antar dan pembantu rumah tangga.

Gegara lockdown, banyak warga kelas menengah ke atas di India yang terbuka matanya dan sadar ,bahwa mereka sangat membutuhkan bantuan pekerja formil. "Selama ini kita berpikir kemiskinan sebagai hal biasa dan kita tahu mereka berusaha keras untuk hidup dengan bekerja dengan kita. Berkat lockdown, kita bisa menyadari pentingnya pekerjaan mereka di keseharian kita," ujar Pendiri Yein Udaan, Vedika Agarwal.

Baca Juga : 7 Pegawainya Positif Covid, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan Tutup 2 Hari

Di India, social distancing adalah hal mewah yang bisa dinikmati warga kelas menengah ke atas. Di Bihar, Uttar Pradesh, misalnya. Di saat 400 juta warga di sana harus menjalani lagi lockdown, hanya mereka yang memiliki rumah besar dan apartemen luas yang bisa melakukan jaga jarak sosial. Sementara warga miskin, harus tetap berdesak-desakan di petak kecil sewaan dan masih harus memutar otak untuk mencari uang.

"Mereka tidak punya pilihan lain. Jika mereka tidak bekerja, mereka tidak bisa digaji," ujar seorang grafic designer, Archan Ghose. (CNN/BBC/DAY)