RMco.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengaku ogah menerapkan lockdown untuk kedua kalinya secara nasional. Alasannya, situasi sekarang tidak segenting seperti kena serangan nuklir. 

Johnson yakin otoritas Inggris bisa menekan kasus penularan lokal dan bisa lebih jeli mencegah kasus penularan impor. Tanpa harus menerapkan karantina wilayah atau lockdown.

“Pihak berwenang makin mahir mengatasi ledakan penuaran baru dengan baik,” ujar PM Johnson dikutip Guardian, kemarin.

“Saya tidak lagi bisa memilih langkah itu (lockdown). Keputusan itu seperti untuk mencegah serangan nuklir. Saya tidak mau berada di posisi itu lagi,” lanjut Johnson.

Johnson mengapresiasi kerja para ahli yang telah bekerja keras mencegah pandemi Covid-19, dengan melakukan isolasi tepat waktu. Dia juga mengapresiasi kerja sama berbagai pihak dalam mencegah penularan virus corona.

“Kami sekarang dapat mengisolasi wabah dan mengatasinya, dan bekerja dengan otoritas lokal untuk mengatasi masalah secara lokal maupun regional,” kata Johnson.

Baca Juga : Hanya Keluarga Inti, Tahlilan Sekda DKI Digelar Virtual

Di bawah pedoman baru yang dikeluarkan Pemerintah Inggris, otoritas lokal memiliki kewenangan untuk menutup pertokoan, ruang publik, maupun membatalkan acara yang digelar di tempat umum jika terjadi kenaikan jumlah kasus Covid-19.

Selain itu, di bawah pedoman baru, warga diizinkan menggunakan transportasi umum dan kembali bekerja dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Kepala Penasihat Ilmiah Sir Patrick Vallance memperingatkan bahwa risiko kenaikan jumlah kasus virus corona dapat meningkat di musim dingin. “Ketika datang musim dingin, tantangan akan jauh lebih besar dan tentu ada risiko bahwa langkah-langkah nasional perlu diambil,” ujar Vallance.

Sebelumnya pada Jumat (17/7), Johnson menganjurkan warganya untuk kembali bekerja seperti biasa. Johnson menganjurkan masyarakat untuk menghindari transportasi publik.

Selain itu, mulai 1 Agustus, para pekerja tidak akan lagi dianjurkan bekerja dari rumah. Namun Johnson menekankan, kebijakan itu terserah pada perusahaan-perusahaan untuk memutuskan apakah akan meminta kembali para pekerja ke kantor.

“Jelasnya bukan pemerintah yang memutuskan bagaimana perusahaan menjalankan bisnisnya, atau apakah para pekerja mereka harus berada di kantor,” katanya.

Baca Juga : 8 Pejabatnya Positif Corona, Pemprov DKI Berikan Penanganan Medis Terbaik

Pengumuman Johnson ini hanya berlaku untuk negara bagian Inggris. Tiga negara bagian lainnya, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, yang memiliki sistem layanan kesehatan masing-masing meonggarkan kebijakan lockdown dengan cara yang sedikit berbeda.

Jumlah korban tewas akibat Covid-19 di Inggris Raya kini telah mencapai lebih dari 45.000 orang hingga Jumat (17/7). Jumlah itu merupakan yang tertinggi di Eropa. Johnson berusaha menghindari melonjaknya jumlah kasus corona namun juga ingin segera memulihkan ekonomi.

Sejumlah Negara Eropa Perketat Lockdown 

Di saat Inggris ingin melonggarkan lockdown, sejumlah negara di benua Eropa justru memperketat penindakan untuk menghadapi gelombang kedua Covid-19. Saat ini, Eropa menjadi benua keempat dengan kasus corona terbanyak.

Melansir AFP, setidaknya tujuh negara Eropa tengah menerapkan lockdown ketat. Sejak 17 Juli, kurang lebih empat juta penduduk di Barcelona diminta tidak keluar rumah. Pemerintah Barcelona juga memerintahkan penutupan bioskop, teater, klub malam dan melarang pertemuan lebih dari 10 orang.

Kemudian restoran yang tetap beroperasi harus membatasi kapasitas pengunjung sebanyak 50 persen. Spanyol juga memperketat syarat penggunaan masker bagi penduduk ketika pergi keluar rumah.

Baca Juga : Setelah Kesepakatan di Washington, Israel Gempur Gaza Lagi

Perintah untuk tidak keluar rumah di Kota Lisbon, Portugal, sudah diterapkan sejak 1 Juli lalu. Kurang lebih pada kota itu terdapat 700 ribu penduduk. Tindakan ini akan mempengaruhi sekitar 20 kawasan yang berada di dekat Lisbon. Sedangkan perintah untuk tidak keluar rumah diperpanjang sampai akhir Juli.

Rencana pembukaan kembali bar di Paris pada 13 Juli diundur ke 10 Agustus setelah kasus corona meningkat. Pertemuan dalam ruangan dibatasi hanya 50 orang dan luar ruangan dibatasi 200 orang. Selain itu, penggunaan masker diwajibkan bagi orang-orang yang beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker di ruang tertutup diwajibkan sejak kejadian di salah satu tempat tertutup di Mayenne, Prancis Utara yang menjadi hotspot Covid-19.

Sementara di Belgia, penggunaan masker untuk usia 12 tahun ke atas di ruang publik seperti toko, bioskop, perpustakaan dan tempat ibadah sejak 11 Juli diwajibkan. Meski tidak terlalu terdampak virus corona dari negara tetangga, pemerintah pusat dan daerah negeri ini menyetujui lockdown yang lebih ketat. Hal itu mereka lakukan untuk mencegah gelombang kedua virus corona.

Terakhir di Hongaria, sejak 12 Juli lalu pemerintah melarang perjalanan dari Amerika Selatan, Afrika dan sebagian besar Asia. Mereka juga membatasi pendatang dari beberapa negara Eropa setelah peningkatan kasus corona di seluruh dunia. [DAY]