RMco.id  Rakyat Merdeka - Bagi warga Mesir yang sedang menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing, dipastikan sulit berkeliaran untuk membeli keperluan sehari-hari. Beruntung ada kelompok relawan yang memasakkan makan sehari-hari untuk dibagikan ke warga yang menjalani karantina mandiri.

Fatma Youssef, salah satu relawan, membuatkan nasi kotak dengan menu rumahan dan mengemasnya setiap hari di ruang makannya. Setiap kotak makannya selalu dia beri pesan penyemangat.

Ada yang berbunyi “sehat selalu” hingga “bersama kita bisa melewati ini bersama.” Meski dia tidak tahu siapa yang akan menikmati makanannya, dia selalu memperhatikan kualitas masakannya. Dia dan banyak relawan lainnya memberi bantuan berupa nasi kotak ke beberapa perumahan di beberapa kota.

Mereka bertekad untuk menyebar bantuan dengan mengirimkan nasi kotak tanpa alamat pengirim kepada para individu yang mengkarantina diri. “Hal baik kadang datang di situasi terparah. Saya tidak akan pernah membayangkan akan ada yang membantu orang yang tidak mereka kenal,” ujar Youssef.

Berita Terkait : Relawan Siaga dan Relawan Indonesia Bersatu Lawan Covid-19 Bantu Korban Kebakaran di Jatinegara

Kegiatan berbagi makanan ini dimulai dari niatan Basma Mostafa (30), jurnalis, yang memposting keinginannya untuk memasakkan makanan bergizi bagi pasien covid-19 yang tengah menjalankan karantina mandiri.

Dia bertanya kepada temannya di medsos, apakah ada di antara mereka yang mau membantu dalam bentuk uang atau membantu mengantar atau mencarikan siapa pasien yang perlu mendapat bantuan.

Meski tidak berharap banyak, dia dibanjiri pesan dari teman hingga orang asing yang tertarik dengan idenya. “Saya takjub. Ide ini mengingatkan mereka tidak sendiri,” ujar Mostafa.

Ide membagi-bagikan makanan ini kini sudah memiliki lebih dari 1.500 relawan. Masih ada ribuan lainnya berharap bisa ikut serta. Bahkan ada juga yang membuat program serupa di perumahan masing-masing.

Berita Terkait : Tata Kelola Penanganan Covid-19 Kudu Dievaluasi

Kotak nasi ini sangat personal karena setiap kotaknya memiliki pesan berbeda dan digambari karikatur sederhana atau emoti- con. “Kami semua bersamamu,” “cepat sembuh,” dibuat dengan cinta,” di sekian banyak kotak nasi yang disebar.

Dalam grup Facebook-nya, Mostafa memberikan dua pilihan: pertama yaitu mereka yang mau menolong dengan berbagai cara dan satu kelompok lain adalah mereka yang memerlukan bantuan makanan.

Di saat banyak yang menawarkan untuk membayar nasi kotak yang mereka terima, Mostafa menyarankan para pasien untuk membayarnya setelah sembuh atau memberikan suplai bahan makanan.

Mai Ezzat, salah satu penerima kotak nasi, mengaku sangat terbantu dengan program Mostafa. Meski awalnya dia tidak yakin ada orang asing yang mau mengantarkan makanan ke depan pagar rumahnya, dia tetap mencoba.

Baca Juga : Melalui FGD, Fadel Gali Pandangan Akademisi dan Birokrat Soal Haluan Negara

Ternyata, paket makanan hangat beserta buah segar tiba di depan rumahnya. Dia sangat tertolong karena dia sekeluarga harus mengkarantina diri di rumah dan tidak bisa keluar rumah setelah ayahnya dinyatakan positif dan anggota keluarga di rumahnya juga ada yang menunjukkan gejala positif. Radwa Shalash, salah satu relawan akan pindah ke orang lain jika pasien yang biasa dia bantu mengaku telah sembuh.

“Gerakan ini menunjukkan bahwa ada banyak orang yang rela mengorbankan apa saja untuk menolong. Ini membuat saya yakin, jika suatu saat saya membutuhkan bantuan, ada ba- nyak yang akan menolong saya,” ujar Shalash dilansir Associated Press. [DAY]