Dokumen Pelaku Pedofil Di Gereja Katholik Sengaja Dihancurkan

Aktivis dan kelompok Ending Clergy Abuse melakukan unjuk rasa menuntut keadilan dan tidak ada toleransi terhadap pelecehan seksual yang terjadi di Gereja Katholik, di Roma.  (Foto AFP)
Klik untuk perbesar
Aktivis dan kelompok Ending Clergy Abuse melakukan unjuk rasa menuntut keadilan dan tidak ada toleransi terhadap pelecehan seksual yang terjadi di Gereja Katholik, di Roma. (Foto AFP)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dokumen-dokumen pelaku pelecehan seksual anak sudah dihancurkan. Tindakan tersebut memungkinkan pelanggaran terus berlanjut. Demikian keterangan Kardinal Jerman Reinhard Marx yang berbicara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pelecehan Seksual, di Vatikan, Sabtu (23/4).

Acara dihadiri sekitar 200 uskup dari seluruh dunia. Pertemuan berlangsung 21-24 Februari. Konferensi digelar untuk menangani krisis yang telah membebani Gereja Katholik Roma selama beberapa dekade. Skandal pelecehan seksual itu terungkap di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Australia, Jerman, Cile dan Irlandia.

"Dokumen mengenai perilaku mengerikan dan nama-nama yang bertanggung jawab telah dihancurkan atau tidak dibuat sama sekali," kata Marx.

Baca Juga : Toyota Sudah Siapkan Strategi Antisipasi Dampak Corona

"Para korban diminta diam. Prosedur dan proses untuk penuntutan terhadap tindakan pelanggaran sengaja tidak diikuti. Hak-hak korban secara efektif terinjak-injak," katanya, sebagai mana dilansir BBC, Associated Press, kemarin.

Marx mendesak transparansi yang lebih besar terkait masalah ini. Dia menambahkan: "Bukan transparansi yang merusak gereja tetapi tindakan pelecehan yang dilakukan, kurangnya transparansi, dan upaya untuk menyembunyikan apa yang terjadi."

Pada Jumat (22/2), Kardinal Marx yang merupakan satu dari sembilan penasihat Paus Fransiskus, yang dikenal sebagai C9, bertemu dengan para penyintas pelecehan dan anggota organisasi global, Ending Clergy Abuse. Ratusan penyintas berdemonstrasi di luar Vatikan, menyerukan keadilan dan tidak ada toleransi terhadap masalah ini.

Baca Juga : Wisata Komodo Jadi Primadona di Pameran Utazas Budapest

Sebelumnya, Pastor Hans Zollne, anggota Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak Hans Zollner mengatakan kepada CBC, dari delapan kesaksian korban pelecehan seksual, Vatikan tahu siapa predator yang telah "merusak" mereka atau di mana kasus-kasus mereka ditangani.

"Vatikan tidak tahu apakah para pelaku masih aktif," katanya.

Terpisah, Marie Collins, korban pelecehan seksual gereja Irlandia, yang juga mantan anggota Komisi Kepausan untuk Perlindungan Anak tak habis pikir dengan Vatikan yang tidak tahu dengan kondisi para pelaku pelecehan seksual saat ini. Padahal telah mengundang para korban untuk bicara di konferensi.

Baca Juga : Mantap, Pasar KPR BTN Capai 90,82 Persen

"Konferensi telah mengundang korban tapi tidak tahu, mengenai para predator anak masih aktif atau tidak di gereja," katanya. Menurut Collins hal itu justru merusak kredibilitas pertemuan. (MEL)