RMco.id  Rakyat Merdeka - Beberapa hari lagi, Brenton Tarrant, teroris pelaku penembakan di sebuah masjid di Christchurch, Selandia Baru, bakal menghadapi sidang vonis.

Sebelum vonis tersebut, keluarga korban diberikan kesempatan menyampaikan pernyataan yang didengar langsung Tarrant. Pernyataan itu salah satunya disampaikan Angela Armstrong, putri Linda Armstrong, salah satu korban tewas dalam serangan terburuk dalam sejarah Selandia Baru itu.

Pada kesempatan itu, Angela menentang istilah supremasi kulit putih, yang jadi dasar penyerangan yang dilakukan Tarrant. Angela meminta Tarrant, untuk memanfaatkan waktu saat berada dalam penjara untuk belajar indahnya keberagaman dan kebebasan yang sudah berusaha ia hancurkan.

Dengan terisak, Angela mengatakan, Tarrant telah merampas segala cinta dan kekuatan dari ibunya. Dia bilang, Tarrant juga akan merasakan hal yang telah dirasakannya. Kehilangan cinta seorang ibu. "Meskipun sebenarnya saya kasihan pada ibumu. Tapi, saya tak punya rasa apapun. Kau bukan siapa-siapa," ucap Angela, seperti dikutip Channel News Asia.

Baca Juga : Telkom Berikan Kemudahan Layanan JKN Dan KIS Untuk Rakyat

Lebih lanjut, Angela menyebut, Tarrant akan terus berada dalam penjara. Sedangkan ibunya telah “bebas”. "Saya menantang Tarrant untuk menggunakan sisa hidupnya untuk melihat keindahan yang ditemukan dalam keragaman dan kebebasan yang dia coba hancurkan," ucapnya.

Tarrant, warga Australia, dijadwalkan akan divonis pekan ini. Dia mengaku bersalah atas 51 pembunuhan, 40 percobaan pembunuhan, dan satu tuduhan melakukan tindakan teroris pasca penembakan di Kota Christchurch tahun lalu. Penembakan brutal itu disiarkan langsung di Facebook.

Vonis atas kasus pembunuhan di Selandia Baru dapat berupa penjara seumur hidup. Hakim disebut bisa menjatuhkan hukuman seumur hidup tanpa adanya pembebasan bersyarat. Hukuman itu sebelumnya tidak pernah digunakan di Selandia Baru.

Kemarin merupakan hari kedua sidang. Tarrant duduk dengan seragam tahanan berwarna abu-abu di sudut ruangan. Penjagaan ketat dilakukan saat Angela menyampaikan pernyataan dan menatapnya secara langsung.

Baca Juga : Keluarga Minta Harun Masiku Serahkan Diri Ke KPK

Di kesempatan itu, Kyron Gosse, keponakan Linda Armstrong mengatakan, pelaku datang ke Selandia Baru sebagai tamu. Dan menggunakan hak istimewa itu untuk menghancurkan keluarga yang telah tinggal di sini selama tujuh generasi.

Tarrant mencuri kepolosan Selandia Baru. "Dia dipenuhi dengan agenda rasisnya sendiri. Pengecut ini bersembunyi di balik senjata besar yang kuat dan menembak Linda yang sudah tua dari jauh," kata Gosse.

Jaksa penuntut mengatakan, Tarrant telah dengan merencanakan serangan dengan hati-hati. Sehingga, serangan itu menimbulkan korban yang cukup besar. Tarrant disebut mengumpulkan senjata api dan amunisi berkekuatan tinggi, berlatih di klub senjata dan mempelajari tata letak masjid.

Tarrant, yang membela dirinya sendiri, akan diizinkan untuk berbicara di beberapa kesempatan selama persidangan. Kendati demikian, Hakim Cameron Mander memiliki kewenangan untuk memastikan Pengadilan Tinggi tidak digunakan sebagai platform untuk ideologi ekstremis.

Baca Juga : Dorong Petani Makin Produktif, PLN Dan BRI Sediakan Layanan Electrifying Agriculture

Pelaporan langsung dari ruang sidang dilarang. Dan pembatasan lainnya diberlakukan terhadap pemberitaan media. PYB