RMco.id  Rakyat Merdeka - Aksi sekelompok massa di Norwegia dan Swedia melakukan penistaan terhadap kitab suci Al Quran, mendapat kecaman. Sejumlah negara mengutuk insiden yang berawal dari aksi protes massa anti Islam di kedua negara tersebut.

Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) juga mengutuk aksi tersebut. Dalam pernyataan yang diunggah di Twitter, Kemlu menyebut aksi itu tak hanya menyakiti umat Islam, tapi juga bertentangan dengan nilai demokrasi. Dan dapat timbulkan perpecahan antar umat beragama.

Berita Terkait : Menelusuri Makna Siyasah (1)

Lebih lanjut, sebagai langkah tegas, kemarin, Pemerintah Indonesia memanggil Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Norwegia dan Swedia di Jakarta. Kemlu menyampaikan secara langsung kecaman terhadap aksi penistaan Al Quran yang terjadi di kedua negara Skandinavia itu.

“Kemlu RI telah memanggil KUAI Kedutaan Besar Swedia dan Norwegia, sampaikan kecaman In-donesia terhadap aksi perusakan Al Quran di kedua negara tersebut,” bunyi pernyataan Kemlu.

Berita Terkait : Mengapa Pesantren Begitu Penting? (2)

Senada dengan Indonesia, Pakistan juga melemparkan kecaman keras atas aksi tersebut. Islamabad menyebut pembakaran yang dilakukan oleh kelompok sayap kanan tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama apapun.

Dalam pernyataan yang disampaikan Juru Bicara Kemlu Pakistan Zahid Hafeez, negara itu mengutuk keras tindakan terse-but. Kata dia, munculnya peris-tiwa Islamofobia bertentangan dengan semangat agama apa pun. “Kebebasan berbicara tidak bisa membenarkan kebencian agama,” kata Hafeez.

Berita Terkait : Mengapa Pesantren Begitu Penting? (1)

Hafeez meminta, agar tiap orang memastikan penghormatan terhadap keyakinan agama orang lain. “Itu adalah tanggung jawab kolektif dan sangat penting untuk perdamaian dan kemakmuran global,” tegas Hafeez.
 Selanjutnya