RMco.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri Palestina, Mohammed Ishtayeh menyatakan, pemerintah akan memberikan rekomendasi kepada Presiden Palestina, Mahmoud Abbas untuk mempertimbangkan kembali hubungan negaranya dengan Liga Arab.

Langkah itu dilakukan di tengah kemarahan Palestina terhadap perjanjian dibukanya hubungan diplomatik dua negara Teluk, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel. "Liga Arab telah menjadi simbol kelambanan negara-negara Arab," kata Ishtayeh, dalam pertemuan kabinet mingguannya, dikutip kantor berita Al Jazeera.

Pekan lalu, pertemuan para menteri Liga Arab bahkan gagal mengadopsi rancangan Palestina, untuk mengecam perjanjian normalisasi UEA-Israel Agustus lalu. Bahrain kemudian menjadi negara Arab keempat yang menjalin hubungan diplomatik penuh dengan Israel setelah UEA, Mesir (1979) dan Yordania (1994).

Berita Terkait : Kelompok-Kelompok Palestina Rapatkan Barisan

Gedung Putih menjadi tuan rumah acara penandatanganan perjanjian normalisasi itu pada Selasa (15/9/2020) waktu Washington. Acara ini dihadiri Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed dan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdul-Latif al-Zayani.

"Selasa akan menjadi hari hitam dalam sejarah negara-negara Arab dan kekalahan institusi Liga Arab," kata Ishtayeh lagi.

Otoritas Palestina (PA) mengecam kesepakatan normalisasi UEA-Bahrain-Israel sebagai pengkhianatan oleh negara-negara Arab. Menteri Urusan Sosial Palestina, Ahmad Majdalani mengatakan kepada kantor berita AFP, perjanjian itu adalah tusukan di belakang perjuangan Palestina dan rakyat Palestina.

Berita Terkait : Palestina Kecam Kesepakatan Israel-Bahrain

Sementara Hamas, yang menguasai Jalur Gaza mengatakan, kesepakatan itu merupakan "agresi" yang menimbulkan "prasangka serius" terhadap perjuangan Palestina.

Kepemimpinan Palestina menginginkan negara merdeka berdasarkan perbatasan de facto sebelum perang 1967, di mana Israel menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza dan mencaplok Yerusalem Timur.

Negara-negara Arab telah lama menyerukan penarikan pasukan Israel dari wilayah yang diduduki secara ilegal, solusi yang adil bagi pengungsi Palestina, dan penyelesaian yang mengarah pada pembentukan negara Palestina merdeka yang layak sebagai imbalan untuk menjalin hubungan dengan Isarel. [DAY]