RMco.id  Rakyat Merdeka - Israel getol melakukan kesepakatan normalisasi hubungan dengan negara teluk. Kesepakatan antara lain sudah berhasil dicapai dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain. Normalisasi diprediksi membuat posisi Palestina makin kejepit.

Penandatanganan normalisasi hubungan akan dilakukan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdul- lah bin Zayed al-Nahyan, dan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif Al Zayani.

Penandatanganan akan digelar di Gedung Putih, Amerika Serikat (AS), pada Selasa (15/11) waktu setempat. Penandatanganan akan disaksikan Presiden Donald Trump.

“Daripada fokus pada konflik masa lalu, rakyat sekarang bisa menciptakan masa depan yang bersemangat penuh dengan kemungkinan tanpa akhir,” kata Jared Kushner, penasihat senior Gedung Putih, dalam pernyataan pada Senin malam seperti dilansir Reuters, kemarin.

Berita Terkait : Palestina Mikir Keluar dari Liga Arab

Kushner merupakan menantu Trump. Dia terlibat dalam negosiasi kesepakatan normalisasi hubungan Israel dengan UEA dan Bahrain. Ia juga sedang berusaha membujuk lebih banyak negara teluk untuk membuat kesepakatan normalisasi dengan Israel.

Salah satu target berikutnya, Oman dan Arab Saudi. Namun sejauh ini, Arab Saudi, belum memberi sinyal siap melakukan normalisasi dengan Israel.

Perubahan Status Quo Pengacara Palestina Khaled Zabarqa mengaku sudah mempelajari kesepakatan normalisasi negara Arab dengan Israel. Ia memperkirakan kesepakatan itu akan membuat posisi Palestina makin kejepit.

Dia khawatir, Masjid Al-Aqsa akan menjadi tanggung jawab Israel. Dengan kata lain, Israel memiliki kelonggaran untuk mengubah status quo. “Ini jelas-jelas pelanggaran terhadap status quo Masjid Al- Aqsa yang ditetapkan setelah pendudukan Yerusalem di tahun 1967. Status quo tersebut jelas jelas mengatakan bahwa segala hal di balik tembok (Masjid Al- Aqsa) adalah kewenangan Yordania,” ujar Zabarqa.

Baca Juga : Kementerian PUPR Janji Perhatikan Aspirasi Anggota DPR

Baik AS maupun Israel belum memberikan pernyataan resmi. Seorang pejabat senior Amerika, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan bahwa kesepakatan normalisasi itu memang untuk menguntungkan Israel.

“Sangat jelas dari bahasa yang digunakan dalam kesepakatan normalisasi, itu dibuat untuk menguntungkan Israel, tanpa pemahaman lengkap dari Uni Emirat Arab, dan ketidaktahuan dari Amerika,” ujarnya.

Organisasi Terrestrial Jerusalem juga telah membaca isi kesepakatan normalisasi antara Israel, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Lembaga itu juga menilai akan ada perubahan radikal terhadap status quo (Masjid Al- Aqsa) dengan dampak jangka panjang.

Dilansir kantor berita Al Jazeera, kemarin, mengacu pada status quo yang disepakati 1967, hanya Muslim yang bisa beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa yang luasnya mencapai 14 hektar.

Baca Juga : Kami Langsung Nembak

Non-Muslim boleh berkunjung ke Masjid Al-Aqsa namun dilarang beribadah di kompleks tersebut. Netanyau telah menegaskan ini pada deklarasi formal tahun 2015. Namun, ketika Amerika, Israel, dan UEA menyepakati normalisasi pada Agustus lalu, kemungkinan status quo itu akan berubah kini mulai terlihat.

Pernyataan ketiga negara mengatakan, semua muslim boleh beribadah di Masjid Al-Aqsa. Selain itu, mereka juga menyatakan tempat suci lainnya di Yerusalem boleh digunakan penganut apapun untuk beribadah.

“Entah apakah terminologi ini disengaja atau tidak, ini bisa membuka pintu penganut Yahudi untuk beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa. Dengan kata lain, mengubah status quo,” tandas keterangan Terrestrial Jerusalem. [DAY]