RMco.id  Rakyat Merdeka - Presiden partai berkuasa Jepang, Yoshihide Suga akhirnya resmi menjadi Perdana Menteri (PM) Jepang, pada Rabu (16/9). Menggantikan Shinzo Abe yang mengundurkan diri karena sakit.

Sementara posisi Sekretaris Kabinet (posisi senior setelah perdana menteri, Red) yang ditinggalkannya, kini ditempati Menteri Kesehatan Katsunobu Kato.

Berita Terkait : LDP Kantongi 3 Tokoh Pengganti Shinzo Abe

Di awal kepemimpinannya, bos Partai Demokrat Liberal (LDP) itu langsung menghadapi banyak tantangan. Selain memulihkan perekonomian di tengah pandemi Covid-19, Suga juga menghadapi tantangan demografi Negeri Sakura, yang sepertiga penduduknya adalah warga berusia 65 tahun.

Agenda pemerintahan di bawah kepeminpinan Suga, dipastikan tidak akan jauh beda dibanding pada masa Abe. Apalagi, Suga telah berjanji untuk menjalankan banyak agenda pemerintahan sebelumnya. Termasuk, program reformasi ekonomi Abenomics.

Berita Terkait : Presiden: Waspadai Klaster Keluarga, Kantor, dan Pilkada

"Pemilihan Suga menjamin kontinuitas dalam semua inisiatif kebijakan utama yang diluncurkan oleh Shinzo Abe," kata Yuki Tatsumi, Direktur Program Jepang Stimson Center yang berbasis di Washington, kepada BBC, Rabu (16/9).

"Tantangan terbesar bagi Suga, adalah bagaimana ia dapat merepresentasikan dirinya sebagai wajah pemerintahan Jepang. Sebab, meski kemampuannya sebagai tangan kanan Abe sudah teruji, kemampuannya untuk memimpin negara masih belum teruji sepenuhnya. Terutama, di bidang kebijakan luar negeri," lanjutnya. [DAY]