RMco.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri Jepang yang baru, Yoshihide Suga, memang sudah tidak muda lagi. Tapi, pria 71 tahun ini rajin berolah raga.

Salah satu olahraga rutin yang dia lakukan setiap pagi adalah sit-up dan berjalan kaki. Diberitakan NHK, Suga setidaknya sit-up 100 kali pada pagi dan malam hari.

Rutinitasolahraganya itu dimulai saat dokter menganjurkannya untuk mengurangi berat badan. Berkat tekad dan ketekunannya, dia berhasil menurunkan berat badan hingga 14 kg dalam 4 bulan.

Berbicara soal latar belakang politiknya, Suga bukanlah putra dari keluarga politisi. Dia berasal dari sebuah desa di Akita. Keluarga petani stroberi di Ogachi, yang kini bernama Yuzawa, Akita.

Berita Terkait : Jepang Prioritaskan Indonesia

"Dia sangat pendiam," kata Hiroshi Kawai, mantan teman sekelas SMA, berkata tentang Suga."Dia adalah seseorang yang tidak mencolok," sambungnya.

Setelah lulus dari sekolah menengah di Yuzawa, Suga pergi ke Tokyo, tempat dirinya mengambil serangkaian pekerjaan paruh waktu, termasuk bekerja di pabrik karton dan pasar ikan Tsukiji, untuk membayar biaya kuliahnya. Suga dewasa pun mengambil kelas malam di Universitas Hosei untuk mendapat gelar sarjana hukum.

"Suga muda memilih Universitas Hosei karena biaya kuliahnya yang murah," kutip NHK, Senin (14/9).

Delapan tahun terakhir, Suga pun menduduki jabatan sebagai kepala sekretaris kabinet. Dia telah bertindak sebagai orang kedua secara de facto dalam pemerintahan, menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit pada konferensi pers dua kali sehari, memberi nasihat kepada Abe tentang kebijakan.

Berita Terkait : Bulan Depan, PM Jepang Mau Sambangi Indonesia dan Vietnam

The Guardian menggambarkan Suga, Selasa (15/9), sebagai kandidat kuat menggantikan Abe yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan.

"Satu-satunya alasan Suga mendapatkan jabatan perdana menteri adalah karena dia bersumpah untuk melanjutkan kebijakan Abe, jadi untuk perdana menteri baru dia sangat dibatasi oleh catatan dan warisan pemerintahan sebelumnya," kata Koichi Nakano, seorang profesor ilmu politik di Universitas Sophia di Tokyo.

Menurut Tobias Harris, seorang pakar Jepang di Teneo Intelligence di Washington dan penulis buku baru tentang Abe. "Jika Suga bertahan, itu sebagian karena dia bukan politisi keturunan," kata Harris.

“Dalam karier politiknya sendiri, dan sebagai penasihat utama Abe, dia terus-menerus fokus pada masalah yang paling menjadi perhatian para pemilih."

Berita Terkait : Xi Jinping Dan PM Jepang Akur Di Telepon

Nasib politik Suga terkait erat dengan Abe sejak dia memenangkan kursi Majelis Rendah pada 1996. Banyak yang menyebut dia sebagai pengaruh utama dalam keputusan Abe untuk mencalonkan diri sebagai perdana menteri untuk kedua kalinya, setelah periode pertama hanya dalam satu tahun.[DAY]