RMco.id  Rakyat Merdeka - Serangan gerilyawan terhadap pasukan keamanan di Pakistan barat laut dilaporkan kian meningkat.

Selama ini, wilayah perbatasan etnis Pashtun itu memang telah lama menjadi tempat para militan yang melarikan diri dari invasi Amerika Serikat (AS) ke Afghanistan pada 2001. Namun, pada 2014, militer Pakistan berhasil “membersihkan” wilayah tersebut. Akibatnya, sebagian besar kelompok militan ini bergeser ke wilayah Afghanistan.

Bahkan dilaporkan, Taliban Pakistan, Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) Juli lalu membangun aliansi dengan sekitar enam faksi kecil militan lainnya. “Kemampuan kelompok dan kekuatan militer mereka meningkat. Begitu juga daya jangkau mereka,” kata Mansur Khan Mahsud, Direktur Eksekutif FATA Research Center, sebuah lembaga penelitian politik independen di Islamabad, Pakistan.

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

Selama September ini, serangan terjadi hampir setiap hari. Mulai dari perangkap bom pinggir jalan, serangan penembak jitu, hingga penyergapan dan pembunuhan penduduk yang dituduh bekerja sama dengan pasukan pemerintah.

Menurut penghitungan angka resmi kantor berita Inggris, Reuters, sejak Maret lalu, kelompok militan telah menewaskan sedikitnya 40 tentara Pakistan.

Sementara menurut Pusat Penelitian FATA, antara Januari dan Juli, setidaknya 109 orang tewas dalam 67 serangan. Ini meningkat dua kali lipat dibanding jumlah pada 2019.

Baca Juga : RUU Cipta Kerja Semoga Tidak Ciptakan Petaka

Wakil Direktur Program Asia Selatan Stimson Center yang berkantor di Washington, Elizabeth Threlkeld mengaku mengkhawatirkan hal ini. "Menguatnya kembali TTP mengkhawatirkan. Karena aktivitasnya sendiri, juga hubungannya dengan kelompok seperti Al Qaeda. Ini bisa kembali memberikan dukungan signifikan kepada kelompok teror internasional jika terus mendapatkan kembali kekuatannya," kata mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS yang pernah bertugas di Pakistan ini.

Saat dikonfirmasi Reuters, militer Pakistan tidak menanggapi permintaan untuk mengomentari maraknya kekerasan yang belakangan terjadi. Namun melalui akun Twitter-nya, Juru Bicara militer Pakistan menyatakan, serangan-serangan itu bertujuan menggagalkan proses perdamaian antara Taliban Afghanistan dengan pemerintahnya serta AS.

Soalnya, Februari lalu, Taliban Afghanistan dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan, hingga pasukan AS ditarik dari Afghanistan. Taliban Afghanistan pun menyanggupi persyaratannya, yakni tidak akan menampung militan lain.

Baca Juga : Hakekat Pamong Dan Prajurit

Sedangkan TTP pekan ini mengeluarkan pernyataan, "Perang kami melawan Pakistan terus berlanjut. Anda akan terus melihat serangan terjadi setiap hari." [PYB]