RMco.id  Rakyat Merdeka - Pasukan keamanan Palestina menangkap tujuh pendukung politisi Palestina yang diasingkan, Mohammed Dahlan. Alasannya, mereka dituduh terlibat kesepakatan damai antara Uni Emirat Arab (UEA) dengan Israel.

Di antara mereka yang ditangkap adalah para anggota senior pendukung Dahlan, yaitu Haytham al-Halabi dan Salim Abu Safia. Hal ini, kutip kantor berita Reuters, diungkap Juru Bicara kubu Dahlan, Imad Mohsen. Namun Mohsen menyatakan, penangkapan itu bermotif politik.

Dalam sebuah pernyataan, pasukan keamanan Palestina mengatakan, mereka telah menahan Halabi dari sebuah desa dekat Kota Nablus di Tepi Barat. Hal ini dikatakan sebagai kelanjutan upaya untuk menegakkan keamanan dan ketertiban.

Berita Terkait : BPJS Kasih Yang Pahit, PLN Kasih Yang Manis

Saat dikonfirmasi, Kementerian Dalam Negeri Pemerintahan Palestina menolak berkomentar.

Sejak 2011, Pemerintahan Palestina di Tepi Barat yang dikuasai Fatah mengalami perselisihan internal. Satu kelompok dipimpin Mahmoud Abbas, yang kini menjabat Presiden Palestina. Satu lagi, kelompok yang dipimpin Mohammed Dahlan.

Dahlan kemudian diusir dari Tepi Barat yang hingga kini masih diduduki Israel. Sejak diasingkan, kelompok Fatah pimpinan Dahlan masih memiliki pemerintahan sendiri secara terbatas di Tepi Barat. Namun selama di pengasingan, Dahlan juga dituding membina hubungan dekat dengan para pemimpin UEA.

Baca Juga : Gunung Sinabung Erupsi, Semburkan Debu Setinggi 500 Meter

Seperti diketahui, kesepakatan UEA dan diikuti Kerajaan Bahrain membangun hubungan diplomatik dengan Israel, memicu kemarahan warga Palestina. Sementara Dahlan, dituding turut memainkan perannya di balik kesepakatan tersebut.

Sebenarnya, Dahlan adalah mantan Kepala Keamanan Fatah di kawasan Gaza, sebelum wilayah diambil alih oleh kelompok Hamas. Dan dia telah lama diangkat sebagai calon penerus Abbas.

UEA dan Bahrain menandatangani perjanjian normalisasi dengan Israel di Gedung Putih pekan lalu, dalam sebuah upacara yang diselenggarakan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Baca Juga : Bareng Ikang Fawzi, Bamsoet Undi Give Away Empat Pilar MPR

Para analis menilai, kesepakatan itu dibuat, juga karena upaya negara-negara kawasan Teluk Persia dalam menghadapi Iran yang berideologi Syiah.

Namun warga Palestina menilai, langkah itu sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan mereka, yang masih berjuang melawan pendudukan Israel di Palestina. [DAY]