RMco.id  Rakyat Merdeka - Kemarin, jadi momen pertama Presiden Jokowi berpidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dengan menggunakan Bahasa Indonesia, Jokowi berbicara lugas dan tegas. Mulai dari tujuan pembentukan PBB, wabah Corona, sampai kemerdekaan Palestina. Sayangnya, kelugasan Jokowi tertutup sengitnya "perang" antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.
 
Jokowi mendapat giliran berpidato di forum itu setelah Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa. Tepatnya sekitar pukul 06.33 WIB. Pidato ini tidak disampaikan secara langsung, tapi lewat video yang sudah disiapkan. 
 
Ada beberapa poin penting yang disampaikan. Mula-mula, Jokowi mengingatkan tujuan dibentuknya PBB, 75 tahun lalu. Salah satunya agar perang dunia tidak berulang. Menurutnya, perang tidak menguntungkan siapa pun. "Tidak ada artinya kemenangan dirayakan atas sebuah kehancuran. Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi terbesar dunia, di tengah dunia yang tenggelam," tegas Jokowi.
 
Jokowi juga beberapa kali menyentil peran lembaga yang kini dipimpin António Guterres itu. Ia meminta PBB berbenah. "Di usia PBB yang ke-75 ini kita patut bertanya apakah dunia yang kita impikan tersebut sudah tercapai? Saya kira jawaban kita akan sama. Belum," sentilnya.
 
Ketika menyinggung persoalan pandemi Covid-19, Jokowi kembali menyentil. Bukan lagi PBB, tapi rivalitas antar negara yang semakin menajam. "Padahal kita seharusnya bersatu padu," ajak Jokowi.
 
Ia juga menyegarkan kembali ingatan tentang Konferensi Asia-Afrika, yang menyuarakan semangat persamaan derajat antarnegara. Kata Jokowi: No one, no country should be left behind.
 
Komitmen Indonesia memperjuangkan hak-hak Palestina juga ditegaskan dalam forum tersebut. "Palestina adalah satu-satunya negara yang hadir di Konferensi Bandung yang sampai sekarang belum menikmati kemerdekaannya," imbuhnya.
 
Jokowi ikut memamerkan kelanggengan hubungan dan kerja sama antar negara di kawasan ASEAN. Diksi kerja sama beberapa kali diulang. Khususnya dalam penanganan Covid-19 yang berdampak pada kesehatan dan sosial ekonominya. Karena itu, ia meminta adanya kesetaraan semua negara dalam mendapatkan vaksin yang aman dan terjangkau. "Semua itu dapat tercapai jika kita semua bekerja sama, bekerja sama dan bekerja sama," tandasnya.
 
Sebelum Jokowi bicara, forum Sidang Majelis Umum PBB sudah lebih dulu panas. Presiden AS Donald Trump yang memulai. Dia menyerang China soal wabah Corona. Trump menyebut, "Virus China" sebagai musuh tak terlihat dunia saat ini. "Kita harus meminta pertanggungjawaban China yang melepaskan wabah ini ke dunia," ucap Trump, memprovokasi forum PBB.
 
Ia juga menuduh Badan Kesehatan Dunia alias WHO dikendalikan China. Gara-gara pernah menyebutkan virus yang bermula dari Wuhan itu tidak menular dari manusia ke manusia. Dan orang tanpa gejala tidak akan menyebarkan penyakit. "PBB harus meminta pertanggungjawaban China atas tindakan mereka," tantang Trump.
 
Tidak lama setelah pidato Trump, yang hanya diselingi Pidato Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden China Xi Jinping tampil. Secara halus, ia menolak stigmatisasi Covid-19. Namun, ia memperingatkan benturan peradaban di tengah pandemi. "China tidak berniat untuk memasuki Perang Dingin dengan negara mana pun," kata Jinping.
 
Pengamat Hubungan Internasional Hikmahanto Juwana menilai pidato Presiden Jokowi di forum PBB kemarin cukup bagus. Namun, sayangnya ketutup sengitnya pidato Trump dan Jinping. "Sudah bagus. Kalau saya sih sesuai ekspektasi saya," kata Hikmahanto, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.
 
Beberapa hal menarik, sebut Hikmahanto, antara lain ketika Jokowi mengingatkan prinsip piagam PBB, hukum internasional, dan penghormatan terhadap kedaulatan wilayah. "Pidato Jokowi terlihat bijak jadinya. Tapi, Trump kan mau hadapi pilpres. Jadi dia manfaatkan," pungkasnya. [SAR]