RMco.id  Rakyat Merdeka - Meski koalisinya jadi pemenang pemilu di negara bagian Sabah, kedudukan Perdana Menteri (PM) Muhyiddin Yassin belum aman. Peluangnya bertahan adalah dengan menggelar pemilu dan menang. Namun pemilu masih dua tahun mendatang. Mau dipercepat?

Peneliti politik Malaysia dari University of Nottingham, Bridget Welsh memang mewanti-wanti sang PM agar tidak boleh lega dulu atas kemenangan di Sabah. Karena pertarungan belum usai.

"Dia baru melewati ujian pemilihan umum di negara bagian. Ini jauh dari selesai," ujar Wels kepada Al Jazeera, kemarin.

"Dia masih menduduki posisi yang rentan. Waktunya di posisi itu masih bisa dihitung dengan hari," ingatnya.

Berita Terkait : Koalisinya Menang Di Sabah, Muhyiddin Belum Aman

Sebagai informasi, dukungan untuk koalisi Muhyiddin, Perikatan Nasional (PN) di parlemen, hanya 111 kursi. Tipis selisihnya dengan kursi koalisi oposisi, Pakatan Harapan (PH) pimpinan Anwar Ibrahim. PH punya 109 kursi.

Minimnya dukungan tersebut karena Muhyiddin bukan pemenang pemilu. Ia  ditunjuk Raja Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah, sebagai PM baru mengantikan Mahathir Mohammad yang mengundurkan diri. Cuma, meski hanya dua kursi, keunggulan itu tentu bikin sesak oposisi yang sebelumnya menang pemilu 9 Mei 2018. 

Tapi tak bisa dipungkuri, kondisi itu berbahaya bagi kedudukan Muhyiddin. Apalagi beberapa hari sebelumnya Anwar mengklaim berhasil meraih dukungan mayoritas anggota Parlemen. Anwar juga bilang, pemerintahan Muhyiddin telah runtuh. Walau Muhyiddin meragukan klaim tersebut, tetap aja bikin kaget. 

Kembali ke hasil pemilu di negara bagian Sabah. Kemenangan koalisinya menambah kepercayaan diri kubu Muhyiddin yang telah berkuasa tujuh bulan.

Berita Terkait : Muhyiddin Yassin: Saya Masih PM Malaysia

Menurut Muhyiidin, dilansir Al Jazeera, kemenangan di Sabah dapat membuka jalan bagi pemilu nasional atau pilihan raya lebih cepat. Yang bertujuan mengakhiri ketidakpastian atas stabilitas aliansi partai berkuasa.

Pemilu Malaysia harusnya digelar pada 2023, namun rumor yang beredar kencang menyebut pemilu berpotensi dimajukan beberapa bulan ke depan. Ini juga menyusul pernyataan kampanye, Muhyiddin yang mengisyaratkan Pilihan Raya ke-15 dapat digelar lebih awal jika koalisi Gabungan Rakyat Sabah (GRS) menang.

“Saya bersyukur kepada Allah SWT atas kemenangan Gabungan Rakyat Sabah dalam Pemilu Negeri Sabah,” ujar Muhyiddin dalam jumpa pers di kediamannya tadi malam, di lansir dari media sosialnya.

“Saya mengucapkan selamat kepada calon-calon GRS yang menang dalam Pemilu. Inilah waktunya bagi kita semua melakukan bakti yang terbaik untuk rakyat dan membuktikan bahwa kita peduli kepada rakyat,” tegasnya.

Berita Terkait : Anwar Ibrahim Klaim Didukung Parlemen Jadi PM

Pemilihan Umum (EC) pada Sabtu malam (26/9), mengumumkan, koalisi PN, Gabungan Rakyat Sabah (GRS) telah memenangkan 37 kursi, lebih dari setengah total 73 kursi. Dan lawannya koalisi Partai Warisan Sabah hanya mendapatkan 32 kursi. Sedangkan independen menang tiga kursi. Tapi kemudian, tiga kursi independen menyatakan dukungan untuk GRS. Jadi total 41.

Annuar Musa, Sekretaris Jenderal Barisan Nasional (BN), koalisi PN juga, mengatakan, dengan perolehan tersebut koalisi akan membahas langkah selanjutnya terkait pembentukan pemerintahan.

"Orang Sabah sudah bersuara, empat puluh satu banding tiga puluh dua. GRS akan membentuk pemerintahan Sabah yang baru, insya-Allah," tandasnya dipostingan Twitter.[MEL]