RMco.id  Rakyat Merdeka - Jumlah kematian global akibat Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi Covid-19, terus bertambah. Awal pekan ini, tercatat kematian telah mencapai 1 juta jiwa. Selain itu, pandemi juga mengakibatkan krisis ekonomi, hingga ketegangan politik global.

Tak ada satu pun tempat yang tidak terdampak virus itu. Mulai dari daerah kumuh di India. Hutan di Brazil. Hingga kawasan megapolitan New York, di Amerika Serikat. Olahraga, hiburan, dan perjalanan internasional terhenti.

Masyarakat harus tetap berada di rumah demi mencegah penyebaran virus tersebut. Demi pencegahan itu juga, sekitar 4 miliar penduduk bumi, harus merasakan berada dalam karantina wilayah, alias lockdown.

Kebijakan itu, berhasil memperlambat penyebaran virus. Tapi, relaksasi yang dilakukan sejumlah negara, membuat penyebaran dan penularan Covid-19 kembali meningkat.

Dikutip Channel News Asia, hingga kemarin, korban meninggal akibat penyakit itu mencapai 1.000.009. Dari sekitar 33.018.877 orang yang terinfeksi. AS memiliki jumlah kematian tertinggi. Dengan lebih dari 200 ribu. Disusul kemudian Brazil, India, Meksiko, dan Inggris.

Dampak dari virus itu dirasakan betul oleh Carlo Chiodi. Dia harus kehilangan kedua orang tuanya akibat penyakit itu. Dia masih sulit menerima yang terjadi. Terlebih, saat hanya bisa melihat ayahnya keluar dari rumah, lalu dibawa ambulans. Dan dia cuma bisa mengucapkan 'selamat tinggal'.

Chiodi menyesal tidak mengatakan, 'saya mencintaimu'. Dia juga menyesal tidak sempat memeluk orang tuanya. "Dan itu masih menyakitkan bagi saya," ucap Chiodi.

Berita Terkait : Puan Minta Pemerintah Turunkan Harga Tes Swab

Di saat para ilmuwan masih berlomba menemukan vaksin yang ampuh, sejumlah negara kembali dipaksa untuk melakukan pilihan yang sulit. Mengendalikan virus dan memperlambat penyebaran virus. Tapi di saat yang sama, ekonomi dan bisnis ambruk.

Dana Moneter Internasional (IMF), awal tahun ini memperingatkan bahwa pergolakan ekonomi dapat menyebabkan krisis yang berbeda. Soalnya, produk domestik bruto dunia runtuh. Eropa, yang terpukul gelombang pertama pandemi, sekarang menghadapi lonjakan kasus lain. Paris, London dan Madrid sudah melakukan pembatasan aktivitas warganya. Agar rumah sakit tidak kolaps.

Masker, pembatasan jarak, baik di toko, kafe, hingga transportasi umum kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di banyak kota. Pertengahan September, terjadi peningkatan kasus positif Covid-19 di sebagian besar wilayah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan kematian akibat virus dapat berlipat ganda menjadi 2 juta, tanpa tindakan kolektif lebih global. Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan mengatakan, 1 juta adalah angka yang mengerikan. Dia meminta semua pihak berefleksi. Agar jangan sampai ada 1 juta berikutnya.

"Apakah kita siap secara kolektif untuk melakukan apa yang diperlukan untuk menghindari angka itu?" ujar Ryan.

Ada Harapan

Wuhan disebut sebagai titik nol, atau asal mula Virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Bagaimana virus itu sampai di sana masih belum jelas. Tapi para ilmuwan mengira itu berasal dari kelelawar. Dan bisa ditularkan ke manusia melalui mamalia lain.

Berita Terkait : Yuk, Terapkan Protokol Kesehatan Di Rumah

Wuhan di-lockdown pada Januari. Di saat negara-negara lain memandang skeptis pada kontrol yang dilakukan otoritas China. Penyebabnya, di saat yang sama mereka masih menjalankan roda ekonomi seperti biasa. Kemudian pada 11 Maret, virus sudah dideteksi ada muncul di lebih dari 100 negara. Dan WHO segera menyatakannya sebagai pandemi.

Patrick Vogt, dokter keluarga di Mulhouse, kota yang menjadi episentrum wabah di Prancis pada Maret, mengatakan, dia menyadari virus corona ada di mana-mana. Itu ketika dokter mulai jatuh sakit. Dan beberapa di antaranya meninggal.

Vogt mengaku, dirinya melihat orang-orang dirawatnya memiliki masalah pernapasan yang sangat parah. Baik warga berusia muda. Maupun mereka yang sudah berumur. "Kami tidak punya solusi penanganan sesuai dengan yang diinginkan," jelas Vogt.

Virus ini tidak mengenal si kaya dan miskin. Atau figur terkenal maupun tidak. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menghabiskan seminggu di rumah sakit. Madonna dinyatakan positif setelah tur ke Prancis. Begitu juga aktor Tom Hanks dan istrinya. Yang kini sudah pulih dan kembali ke rumahnya di Los Angeles, AS. Setelah menjalani isolasi di Australia.

Olimpiade Tokyo, Karnaval Rio yang terkenal, dan ibadah Haji di Makkah, adalah beberapa acara besar terganggu akibat pandemi. Pertandingan olahraga seperti sepakbola di Inggris, sudah dimulai lagi. Tapi, stadion tidak boleh diisi penonton suporter tim. Turnamen tenis Prancis Terbuka membatasi penontonnya maksimal 1.000 orang setiap hari.

Di tempat lain, Israel kembali melakukan lockdown total. Dan pembatasan aktivitas juga telah diberlakukan lagi di Moskow, Rusia. Namun, di saat pembatasan kembali diperketat, protes dan kemarahan meningkat. Itu adalah saat dimana bisnis khawatir tentang kelangsungan hidup mereka.

Pengunjuk rasa anti-lockdown dan polisi, bentrok di pusat kota London, Inggris, akhir pekan lalu. Ketika petugas membubarkan ribuan orang pada sebuah demonstrasi.

Baca Juga : Jokowi Minta Sektor Pertanian Terus Dijaga

"Ini adalah pukulan, di saat kami mulai bangkit lagi," kata Patrick Labourrasse.

Pemilik restoran di Aix-en-Provence, kota Prancis dekat Marseille. Dia lagi-lagi terpaksa menutup bar dan restoran. Namun, seiring dengan kekacauan yang terjadi di beberapa tempat, ada secercah harapan.

Khususnya, ketika melihat Wuhan dapat mengendalikan penyakit tersebut. Menurut seorang warga Wuhan, hidup mereka kini telah kembali seperti sebelumnya. "Semua orang yang tinggal di Wuhan kini merasa nyaman," kata warga itu.

IMF juga mengatakan prospek ekonomi tampak lebih cerah saat ini. Dibanding pada Juni lalu. Meski saat ini masih ada sejumlah tantangan. Dan yang terpenting, sembilan kandidat vaksin sedang dalam uji klinis tahap terakhir. Menurut jadwal, beberapa akan diluncurkan tahun depan.[PYB]