RMco.id  Rakyat Merdeka - Arab Saudi berencana memboikot produk Turki minggu ini. Sebelumnya Arab juga melakukan tekanan kepada para pebisnis lokal untuk tidak berdagang dengan Ankara sebagai bagian dari embargo.

Dilansir dari Press TV, larangan tersebut ditujukan untuk memberikan pukulan pada ekonomi Turki yang sudah lumpuh. "Pelanggan kami telah terbiasa dengan produk Turki, mereka puas. Namun, mereka tidak dapat membeli barang kami lagi. Mereka mengatakan kirim saja melalui negara ketiga," ujar seorang pengusaha Turki.

Pebisnis yang menolak disebut namanya itu menjelaskan para pengusaha kecil dan menengah bingung lantaran ekspor ke Saudi, terutama dari provinsi Hatay, Gaziantep, dan Diyarbakir telah dihentikan. Arab Saudi telah menekan bisnis lokal untuk tidak berdagang dengan Turki dan industrinya dalam upaya untuk meningkatkan boikot tidak resmi.

Berita Terkait : Pengrajin Tempe Mogok Produksi

Menurut laporan bulan Juli oleh Middle East Eye, mengutip informasi dari pejabat Turki, Kerajaan telah mencegah truk yang membawa buah dan sayuran segar melintasi perbatasan Saudi.

Surat kabar Turki Dunya juga melaporkan bahwa pemerintah Saudi telah menghubungi para pebisnis individu dan memerintahkan mereka untuk tidak berdagang dengan perusahaan Turki atau membeli produk apa pun yang dibuat di Turki. Pemerintah akan mengenakan denda kepada perusahaan mana pun yang mengabaikan perintah ini.

Riyadh sedari tahun lalu sudah memberlakukan embargo tidak resmi terhadap barang-barang dari Turki, termasuk tekstil dan makanan tidak tahan lama. Saudi juga terus berkampanye untuk mencegah warganya bepergian ke Turki dengan alasan tidak aman.

Berita Terkait : Minta Maaf, Bupati Boltim Apresiasi Banpres Produktif

Hubungan Saudi-Turki memburuk setelah negara itu bersama Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir memutus hubungan diplomatik dengan Qatar pada 5 Juni 2017. Langkah ini diikuti dengan blokade darat, laut, dan udara terhadap negara Arab Teluk itu. Turki menggantikan posisi Saudi dan UEA sebagai pemasok bahan makanan ke Qatar.

Konflik Saudi-Turki kian meruncing setelah pembunuhan atas Jamal Khashoggi, kolumnis koran the Washington Post, terjadi di dalam kantor Konsulat Saudi di Kota Istanbul, 2 Oktober 2018. Hasil penyelidikan Turki menyimpulkan pembunuhan itu dilakukan tim beranggotakan 15 warga Saudi atas perintah Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman.

Kedua negara juga berseberangan dalam konflik Libya. Saudi bersama UEA dan Mesir menyokong Jenderal Khalaf Haftar, membikin pemerintahan tandingan di timur Libya, sedangkan Turki mendukung pemerintahan di Ibu Kota Tripoli. [DIT]