RMco.id  Rakyat Merdeka - Segala upaya mencapai cita-cita menjadi Perdana Menteri (PM) Malaysia, seakan sudah mendarah daging bagi Anwar Ibrahim. Tapi, usahanya ternyata tak berjalan mulus. Semesta seolah belum merestui Anwar.

Pekan lalu, Anwar bahkan berani mengklaim, dia berhasil mendapat dukungan mayoritas anggota parlemen untuk membentuk pemerintahan, menjadi PM. Langkah Anwar sempat menyentak pemerintah baru negara itu, yang konon kondisinya juga tidak stabil.

Karena, koalisi pemerintah pimpinan PM Muhyiddin Yassin dengan Perikatan Nasional (PN) hanya punya lebih dua suara dari kubu oposisi yang dipimpin Anwar, Pakatan Harapan (PH).

“Apa yang benar-benar dipertanyakan masyarakat sekarang ini adalah: Akankah ia menjadi tokoh yang tidak pernah menjadi PM. Atau akankah dia dapat mencapainya?” kata Bridget Welsh, periset kehormatan di Institut Riset Asia University of Nottingham di Malaysia.

“Anwar Ibrahim sudah malang melintang dalam politik. Dia tidak dapat dinafikkan se- bagai tokoh politik,” kata Welsh. Tetapi, masih menurut Welsh, usahanya belum berasil. Kemujuran belum berpihak kepadanya. Semesta tak merestuinya.

Dalam konferensi pers di Kuala Lumpur pada 23 September 2020 lalu, Anwar, Ketua Parti Keadilan Rakyat (PKR) mengklaim telah menumbangkan Muhyiddin. Agar berhasil mencapai tujuan itu, Anwar harus meyakinkan Raja Malaysia, Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah.

Berdasarkan Konstitusi, Raja memiliki hak untuk mengganti PM. Hal itu bisa terjadi kalau Raja meyakini petahana telah kehilangan kendali atas parlemen yang beranggotakan 222 orang. Anwar dan raja seharusnya bertemu pada 22 September 2020. Tapi Istana membatalkannya, seraya menyatakan raja sedang sakit.

Kemudian, Istana menyatakan, raja sedang dalam masa pemulihan akibat keracunan makanan dan cedera karena olahraga dan tidak diizinkan menerima tamu. Setidaknya hingga hari ini. Jika pun raja sehat hari ini. Be- lum tentu juga Anwar berhasil. Karena Muyiddin masih punya kartu. Sebagai PM, dia bisa saja membubarkan parlemen dan meminta pemilu dini digelar.

Berita Terkait : Kondisi Raja Malaysia Stabil, Tak Ada Komentar Soal Anwar Ibrahim

“Saya yakin PM Muhyiddin Yassin akan meminta pembubaran Parlemen, lalu pemilu digelar jika ingin membuktikan Anwar mendapat dukungan atau tidak,” kata pengamat politik dari Univer- siti Utara Malaysia, Kamarul Zaman Yusoff dari Universiti Utara dilansir Free Malaysia Today.

“Tidak akan ada jaminan kemenangan bagi oposisi saat ini jika pemilihan umum baru diadakan. Akankah Dr Mahathir Mohamad dan orang-orang yang sejalan dengannya mendukung Anwar? Dilihat dari tanggapan Mahathir terhadap pengumuman Anwar, dia terdengar sangat sinis,” sambungnya.

Sebelumnya, Mahathir mengatakan, dia hanya akan menunggu dan melihat apakah benar Anwar memiliki cukup dukungan.

Karier Penuh Gejolak

Anwar dikenal dengan karier politik yang penuh warna. Ada gejolak. Berkali-kali terhempas ketika di posisi akan mencapai puncak. Dia bahkan menjadi salah satu tokoh politik paling terkenal dan kontroversial di Asia Tenggara.

BBC mengulas karier politiknya. Anwar (73), pertama kali meraih sorotan saat menjadi pemimpin mahasiswa yang sangat karismatik yang mendirikan gerakan pemuda Islam Malaysia, ABIM. Dia lalu mengejutkan banyak orang dengan bergabung dengan Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), partai yang sudah lama berkuasa, pada 1982.

Keputusannya itu terbukti sebagai langkah politik yang cerdik. Dia dengan cepat menaiki tangga politik dan memegang banyak jabatan kementerian.

Pada 1993, dia menjadi wakil Mahathir dan secara luas diharapkan untuk menggantikannya kelak. Tetapi ketegangan terjadi setelah krisis keuangan Asia 1997. Terjadi bentrok karena ekonomi dan korupsi.

Berita Terkait : Kemenangan Kubunya di Sabah, Buka Jalan Muhyiddin Percepat Pemilu

Pada September 1998, Anwar dipecat dan memimpin protes publik terhadap Mahathir. Tindakan itu adalah awal dari Reformasi, sebuah gerakan yang akan mempengaruhi generasi aktivis demokrasi negeri jiran itu. Anwar ditangkap dan akhirnya didakwa melakukan sodomi dan korupsi, tuduhan yang dia bantah.

Protes kekerasan di jalanan meletus ketika Anwar dipenjara selama enam tahun karena korupsi. Setahun kemudian, dia dijatuhi hukuman sembilan tahun karena sodomi.

Anwar selalu menyatakan, tuduhan itu adalah bagian dari kampanye kotor untuk memecatnya. Sebab, dia adalah ancaman politik terhadap Mahathir, mentornya sendiri.

Pada akhir 2004, setahun setelah Mahathir mundur sebagai PM, Mahkamah Agung Malaysia membatalkan dakwaan sodomi dan membebaskan Anwar dari penjara. Setelah dibebaskan, Anwar muncul sebagai ketua de facto dari oposisi yang baru bangkit yang menunjukkan kinerja yang kuat dalam pemilu 2008. Namun klaim sodomi kembali diajukan terhadap Anwar pada 2008, yang menurutnya merupakan upaya lain pemerintah untuk menyingkirkannya.

Pengadilan Tinggi akhirnya membebaskan Anwar dari dakwaan pada Januari 2012, dengan alasan kurangnya bukti. Tahun berikutnya dia memimpin oposisi ke tingkat yang baru dalam pemilihan yang memberikan dampak bagi koalisi Barisan Nasional yang berkuasa.

Tapi sekali lagi, ambisi Anwar digagalkan. Saat dia bersiap untuk bertarung dalam pemilihan negara bagian pada 2014, pembebasan sebelumnya dibatalkan dan dia dijebloskan kembali ke penjara.

Dalamperistiwa yang mengejutkan pada 2016, mantan saingannya, Mahathir, mengumumkan bahwa dia akan keluar dari masa pensiunnya untuk kembali mencalonkan diri sebagai PM. Pria berusia 92 tahun itu mengatakan, dia muak dengan tuduhan korupsi yang melanda PM saat itu, yaitu mantan anak didik lainnya, Najib Razak.

Tetapi untuk mengembalikannya, Mahathir membuat kesepakatan dengan Anwar yang masih dipenjara. Anwar saat itu tetap populer di kalangan pendukung oposisi. Dalam momen yang banyak dipublikasikan, keduanya berjabat tangan, menandai dimulainya reuni politik yang luar biasa.

Berita Terkait : Anwar Hilang Sabarnya

Mahathir memimpin aliansi Pakatan Harapan meraih kemenangan dalam pemilihan 2018, mengakhiri rekor 61 tahun Barisan Nasional yang tak terputus dalam memerintah negara. Mahathir menjadi PM Malaysia lagi, dan mengindikasikan akan menyerahkan kekuasaan kepada Anwar dalam dua tahun.

Dia juga memenuhi janjinya membebaskan Anwar dari penjara, dan memberinya pengam- punan penuh. Tetapi, aliansi yang ditempa atas janji Mahathir untuk menyerahkan kekuasaan kepada Anwar, kemudian mulai terlihat genting ketika Mahathir tidak berniat menepati janjinya menyerahkan jabatan kepada Anwar.

Pertarungan sengit untuk suksesi dan kebangkitan nasionalisme Melayu pun dimulai. Pada Februari lalu, pengunduran diri Mahathir yang tak terduga menyebabkan keruntuhan koalisi, menjerumuskan Malaysia ke dalam periode kekacauan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

RajaMalaysia, yang memiliki keputusan akhir tentang siapa yang harus membentuk peme- rintahan, memilih Muhyiddin Yassin untuk memimpin, yang secara efektif memulihkan tatanan lama ke kekuasaan.

Namun dalam perubahan terbaru dalam turbulensi politik yang sedang berlangsung, pada September 2020 Anwar mengatakan, dia memiliki suara mayoritas parlemen dan sedang mencari audiensi dengan raja untuk mem-bentuk pemerintahan baru.

Klaimnya dibantah Muhyiddin, yang mengatakan dia masih berkuasa. Sementara raja, belum berhasil ditemui Anwar.[MEL]