RMco.id  Rakyat Merdeka - Kandidat Presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden berhasil unggul 10 poin dalam jajak pendapat nasional, setelah Presiden Donald Trump yang menjadi rivalnya, dinyatakan positif Covid-19. Ini adalah angka tertinggi yang dicetak Biden, dalam satu bulan terakhir. 

Dalam  jajak pendapat yang dirilis Reuters/Ipsos pada Minggu (4/10), mayoritas warga AS mengatakan, Trump mestinya bisa terhindar dari Covid-19, bila ia menganggap pandemic Corona sebagai ancaman serius.

Jajak pendapat nasional pada 2-3 Oktober lalu mengindikasikan adanya dukungan suara untuk kandidat presiden, yang melampaui kelompok Trump. Mereka disinyalir berada di lingkungan RS Militer Walter Reed, tempat Trump menjalani perawatan Covid.

Trump memang seringkali mengabaikan bahaya pandemi Covid. Ia bahkan menyebut, pandemi Covid bisa hilang dengan sendirinya.

Trump juga mencela Biden, yang pekan lalu mengenakan masker pelindung. Cemoohan ini tentu saja ironis, mengingat jutaan orang telah terinfeksi. Kegiatan bisnis dan sekolah pun tutup karenanya.

Berita Terkait : Biden Hadapi Kombinasi 1861 Dan 1933

Jajak pendapat Reuters/Ipsos menyebut, Biden mampu meraup 51 persen suara. Atau unggul 10 persen dibanding Trump, yang hanya mampu mendulang angka 41 persen. Sebanyak 4 persen lainnya memilih kandidat lain, dan 4 persen lainnya abstain.

Keunggulan 10 poin Biden atas Trump ini mencapai 1 hingga 2 poin lebih tinggi, ketimbang yang telah dikantongi Biden dalam beberapa pekan terakhir. Meski peningkatan tersebut masih dalam batas presisi jajak pendapat, plus minus 5 poin persentase.

Dengan jeda waktu satu bulan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres), Biden telah berhasil mempertahankan keuntungan awal dalam mengamankan suara pemilih. Namun, untuk bisa duduk di kursi kepresidenan, seorang kandidat harus cukup mengantongi suara demi memenangkan Electoral College.

Sejauh ini, jajak pendapat di negara bagian menunjukkan, Trump memiliki popularitas yang nyaris sama dengan Biden di medan pertempuran yang sengit.

Trump yang kini berusia 74 tahun, dipindah ke RS Militer Walter Reed, beberapa jam setelah ia mengumumkan positif Covid melalui akun Twitter-nya, Jumat (2/10). Trump dikabarkan mengalami demam ringan dan butuh bantuan oksigen. Sejumlah tokoh Republik yang dekat dengan Trump pun, belakangan diketahui positif Covid.

Berita Terkait : Jelang Pelantikan Biden, Washington Di-Lockdown

Mayoritas warga AS, yang jumlahnya sekitar 65 persen sangat mengkhawatirkan pandemi Covid. Sebanyak 9 dari 10 anggota Partai Demokrat serta 5 dari 10 anggota Partai Republik pun satu pemahaman: bila Trump menganggap pandemic Covid sebagai hal yang serius, kemungkinan ia tak akan terinfeksi.

Hanya 34 persen saja yang percaya Trump bicara benar soal Covid. Sebanyak 55 persen tak percaya, dan 11 persen tak yakin dengan jawabannya alias ragu-ragu.

Dari seluruh hasil polling, 57 persen warga Amerika tak setuju dengan cara Trump merespons pandemic Covid secara keseluruhan. Angka ini meningkat 3 poin dibanding polling pada pekan lalu.

Publik Amerika tampaknya juga menginginkan berbagai pembatasan dalam Pilpres 3 November mendatang, untuk menjamin keselamatan setiap orang.

Sebanyak 67 persen warga Amerika tak setuju kampanye langsung. Sementara 59 persen lainnya, berpendapat Debat Capres harus ditunda sampai Trump betul-betul sembuh dari Covid.

Berita Terkait : Trump Dimakzulkan DPR AS Dua Kali, Senat Belum Merestui

Hingga kini, nasib Debat Capres Jilid II yang dijadwalkan pada 15 Oktober mendatang, masih belum jelas. Sementara Debat Wapres Jilid I antara Kandidat Partai Demokrat Kamala Harris dan Mike Pence dari Partai Republik, rencananya akan digelar pada Kamis (8/10) mendatang.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan secara online di seluruh AS, dengan menggunakan Bahasa Inggris, melibatkan 1.005 orang dewasa AS, dengan 596 kemungkinan pemilih.

Asal tahu aja, dalam Pilpres 2016, jumlah warga AS yang memberikan suaranya hanya mencapai 61 persen. [HES]