RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz menuding Turki selama ini menentang upaya perdamaian. Dia pun menghimbau dilakukannya tekanan internasional, agar Turki mengubah kebijakannya.

Selama ini, Israel sering menghindari melakukan kecaman publik terhadap Turki. Mengingat Turki masih mempertahankan hubungan perdagangan dan diplomatiknya dengan Israel. Meski di saat yang sama, Turki juga punya sikap yang pro Palestina.

Saat memberikan penjelasan kepada para wartawan wilayah Teluk Arab, sebagai tindak lanjut baru dibukannya hubungan Israel dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain, Gantz menilai, Turki dan juga Iran, adalah negara-negara penolak perdamaian. Malah, juga dia nilai mendukung kebijakan-kebijakan agresi regional.

Berita Terkait : Nurbaya Ajak Dunia Internasional Jadikan Bumi Tempat Layak Hidup

Iran -yang selama ini bermusuhan dengan Israel- dan Turki, selama ini mengkritik dilakukannya kesepakatan normalisasi 15 September yang ditengahi Amerika Serikat (AS) antara Israel dengan negara-negara Teluk. Keduanya menganggap sikap tersebut sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan bangsa Palestina.

Namun, Gantz membeberkan keterlibatan Turki dalam perang di Suriah utara dan konflik perbatasan antara Turki dan Yunani di wilayah Mediterania Timur, serta intervensi Turki di Libya, hingga hubungan Turki dengan militan Hamas –yang dianggap sebagai teroris oleh Israel dan AS, Palestina.

"Semua itu menjauhkan (Turki) dari (terciptanya) stabilitas. Jelas, Turki adalah negara yang sangat rumit. Karena Turki (juga) adalah bagian dari NATO," kata Gantz pada konferensi Zoom, yang diselenggarakan oleh Dewan Arab untuk Integrasi Regional (The Arab Council for Regional Integration), sebuah kelompok yang mendorong dilakukannya pendekatan Israel terhadap negara-negara Arab.

Baca Juga : Aksi Buruh, Lalin di Sekitar Gedung DPR/MPR Dialihkan

"Kita harus mengambil semua opsi, dan mencoba mempengaruhinya melalui tekanan internasional. Untuk memastikan, bahwa mereka (Turki) menarik tangan mereka dari terorisme (secara) langsung," lanjutnya, seperti dikutip kantor berita Inggris, Reuters.

Seperti diketahui, Palestina sendiri kecewa dengan terobosan diplomatik Israel di kawasan Teluk. Namun Israel, juga seperti Amerika Serikat beranggapan, kesepakatan dengan UEA dan Bahrain itu juga akan dapat menghasilkan kesepakatan dengan Palestina.

"Kami hanya ingin memastikan bahwa kami menemukan keseimbangan yang tepat antara menjaga keamanan kami dan memungkinkan kedaulatan Palestina," kilah Gantz. [DAY]