RMco.id  Rakyat Merdeka - Kabar keluarnya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dari Pusat Kesehatan Walter Reed National Military, memberi kekuatan pada rupiah. Pagi ini nilai tukar rupiah dibuka meroket. Membuat dolar keok.

Rupiah menguat hingga 178 poin atau sekitar 1,2 persen di level Rp 14.622 per dolar Amerika Serikat (AS) dibanding pedagangan kemarin di level Rp 14.800 per dolar AS.

Tak hanya perkasa atas dolar AS, mata uang Garuda ini menguat atas mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan menguat 0,27 persen, peso Filipina naik 0,11 persen, ringgit Malaysia naik 0,11 persen, baht Thailand menguat 0,1 persen, dolar Singapura naik 0,06 persen, dan yen Jepang 0,05 persen.

Berita Terkait : Merasa Lebih Baik Ketimbang 20 Tahun Lalu, Trump Tinggalkan RS

Indeks dolar di sisi lain turun sebesar 0,10 persen ke level 93,418. Sementara nilai tukar rupiah terhadap mata uang global turut menguat. Terhadap Euro sebesar 1,71 persen di posisi Rp 17.251, terhadap dolar Australia naik 1,70 persen di posisi Rp 10.517, terhadap yuan China menguat 2,03 persen di level Rp 2.174.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan, melesatnya rupiah didorong sentimen kabar keluarnya Trump dari RS Walter Reed.

"Hal itu mendorong pelaku pasar keluar dari aset aman dolar AS dan masuk ke aset berisiko, sehingga ada potensi penguatan rupiah terhadap dolar AS pagi ini," terangnya.

Berita Terkait : Awal Pekan, Rupiah Dibuka Melesat

Ariston mencatat ada potensi penguatan rupiah dengan bergerak di kisaran Rp 14.700 sampai Rp 14.900 per dolar AS pada hari ini, dalam riset harian, Selasa (6/10).

Selain itu, sentimen penguatan juga berasal dari kelanjutan negosiasi paket stimulus ekonomi tahap dua senilai 2,2 triliun AS antara pemerintah dan DPR AS. Di sisi lain, ada peluang pemulihan ekonomi yang tercermin dari perbaikan indeks aktivitas sektor jasa AS yang baru dirilis.

Sementaradari dalam negeri, penguatan rupiah justru muncul dari pengesahan Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja (RUU Ciptaker). Aturan kontroversial ini mendadak disahkan DPR pada Senin malam.

Berita Terkait : Trump Tak Mau Dikurung

"Sentimen positif dari dalam negeri juga bisa datang dari disahkannya RUU Cipta Kerja yang dipandang menguntungkan investor dan situasi unjuk rasa terkendali," pungkasnya.[DWI]