RMco.id  Rakyat Merdeka - Perdana Menteri Kirgizstan, Kubatbek Boronov, mengundurkan diri, setelah Komisi Pemilihan Umum Pusat membatalkan hasil pemilihan parlemen pada Minggu (4/10) karena dianggap telah dicurangi.

Boronov dan Ketua Parlemen Kyrgyzstan, Dastan Jumabekov, menyerahkan surat pengunduran diri mereka pada pertemuan legislator di Bishkek, Selasa (6/10), seperti dikutip kantor berita Qatar, Al Jazeera.

Para anggota parlemen kemudian sepakat menunjuk Sadyr Zhaparov sebagai perdana menteri sementara, dan Miktibek Abdildayev sebagai Ketua Parlemen.

Baca Juga : Rupiah Joss Pagi Ini, Naik 0,03 Persen

Pengunduran diri dua pejabat tinggi negara tersebut terjadi di tengah gelombang unjuk rasa yang semakin tidak terkendali dalam memprotes hasil pemilu legislatif pada 4 Oktober lalu.

Setelah pemungutan suara pada Minggu (4/10), ribuan pengunjuk rasa berkumpul di ibu kota Kirgizstan, Bishkek, untuk menentang hasil perhitungan suara, di mana banyak calon legilatif dari berbagai partai tidak masuk. Aksi protes besar-besaran tersebut diwarnai dengan bentrokan dengan polisi. Para pengunjuk rasa bahkan berhasil merangsek masuk ke Gedung Putih Bishkek, kantor parlemen dan kepresidenan. Satu orang orang dilaporkan tewas dan hampir 600 orang terluka dalam kericuhan itu.

Menanggapi aksi ini, Komisi Pemilihan Umum Pusat menyatakan, hasil pemilihan tidak valid. Sementara Presiden Sooronbay Jeenbekov menyebut aksi protes tersebut ditunggangi oleh oknum-oknum tertentu demi mendapatkan kekuasaan.

Baca Juga : Tingkatkan Kualitas Lulusan, Prodi KPI UIN Jakarta Siap Review Kurikulum

Walikota Bishkek dan Osh serta Gubernur wilayah Naryn, Talas, dan Issyk-Kul pun kemudian mengundurkan diri.

Kirgizstan memang sering mengalami pergolakan politik. Dalam 15 tahun terakhir, negara ini menghadapi dua revolusi -pada 2005 dan 2010- melawan kelas politik yang korup dan kecurangan dalam pemilu.

Pada Revolusi 2010 juga terjadi bentrokan etnis di wilayah mayoritas etnis Uzbek di selatan negara ini. Akibatnya, lebih dari 400 orang tewas dan ribuan lainnya mengungsi.

Baca Juga : Nadal Tembus Semifinal Prancis Terbuka

Pemisahan regional antara utara dan selatan telah lama menjadi perpecahan paling menonjol di Kirgizstan. [DAY]