RMco.id  Rakyat Merdeka - Rusia kembali menyerukan perdamaian di zona perang Nagorno-Karabakh (NK) Azerbaijan. Seruan itu keluar menyusul kekhawatiran Rusia, wilayah itu bisa dijadikan basis militan Islam yang hendak masuk ke Rusia.

Kekhawatiran itu datang setelah pertempuran antara warga NK yang merupakan etnis Armenia dengan pasukan Azerbaijan. Dikutip kantor berita Prancis, Agence France-Presse (AFP), Armenia yang memiliki pakta pertahanan dengan Moskow, telah menawarkan konsesi dengan Azerbaijan jika memang ada kesepakatan.

AFP tak merinci kesepakatan yang disebut dibuat Perdana Menteri (PM) Armenia, Nikol Pashinyan. Sebelumnya, Azerbaijan mengatakan akan menghentikan perang hanya jika Armenia menarik mundur pasukannya dari NK. Wilayah NK, meski dihuni mayoritas etnis Armenia, namun dunia internasional menganggapnya sebagai teritori Azerbaijan.

Baca Juga : Hari Ini Jasa Marga Dan HK Sesuaikan Tarif Tol

Juru Bicara Rusia, Dmitry Peskov menyerukan pertempuran segera dihentikan. Sedangkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov menyuarakan keprihatinan serius tentang eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keprihatinan itu terungkap dalam pembicaraam telepon dengan Menlu Iran.

Sergei Naryshkin, Kepala Badan Intelijen Luar Negeri SVR Rusia mengatakan, konflik tersebut menarik orang-orang yang dia gambarkan sebagai tentara bayaran dan teroris dari Timur Tengah. "Kami bicara ratusan dan bahkan ribuan militan yang berharap mendapatkan uang dalam perang Karabakh," katanya, seperti dikutip kantor berita Inggris, Reuters.

Naryshkin memperingatkan, wilayah Kaukasus Selatan bisa menjadi basis baru organisasi teroris internasional. Militan-militan itu disebutkan dapat memasuki banyak negara, termasuk Rusia.

Baca Juga : Semoga Pemulihan Ekonomi Dapat Berjalan Lebih Cepat

Pernyataan itu dilontarkan setelah Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, yang negaranya merupakan sekutu dekat Azerbaijan, mendesak Rusia untuk lebih aktif dalam penciptaan perdamaian.

Sejauh ini, upaya mediasi yang dipimpin Rusia, Prancis, dan Amerika Serikat (AS) gagal mencegah berlanjutnya pertempuran di NK. Sebelumnya, telah ada gencatan senjata yang mengakhiri perang pada 1991 hingga 1994, yang menewaskan sekitar 30 ribu orang.

Konflik senjata dua belah pihak sejak 27 September itu meningkatkan kekhawatiran, Turki dan Rusia, bisa terseret dalam konflik tersebut. Iran, yang berbatasan dengan Azerbaijan dan Armenia, juga mengkhawatirkan konflik ini. Presiden Iran, Hassan Rouhani juga telah berbicara dengan Presiden Azerbaijan lewat telepon, mengenai pentingnya perdamaian di kawasan itu.
 Selanjutnya