RMco.id  Rakyat Merdeka - Pertarungan menuju kursi kepresidenan Amerika Serikat (AS), ternyata tidak semata-mata adu debat dua kandidat berseberangan. Para anggota Partai Republik dan Demokrat juga melakukan berbagai cara untuk menang.

Hal ini diungkap Direktur Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia (UI), Suzie Sudarman. Calon inkamben dari Partai Republik, Donald Trump dan kroninya misalnya, menggunakan cara yang tidak melulu jalan yang baik. Tidak jarang langkah yang diambil sudah masuk kategori curang.

Baca Juga : 27 Peserta Demo Tolak UU Cipta Kerja Reaktif, 2 Positif Covid

"Orang-orang di Partai Republik itu lebih berani curang. Trump tidak segan mengambil langkah curang agar kembali meraih kemenangan," ujar Suzie, dalam diskusi virtual yang digelar Marapi Consulting and Advisory bertajuk Pemilu Presiden AS 2020 dan Pengaruhnya atas Indonesia, Rabu (7/10).

Dia menyebut, pihak Trump terbukti mengambil langkah tidak lazim untuk mencapai kemenangan untuk capres mereka. "Mereka mati-matian menggulung Obamacare. Untuk urusan suara, mereka bahkan mengurangi jumlah kotak suara untuk lokasi pengembalian suara via pos," jelasnya.

Baca Juga : Temui Demonstran, Emil Akan Surati Presiden Minta UU Ciptaker Dibatalkan

Kotak suara ini dipakai para pemilih awal untuk menyerahkan pilihan mereka via pos. Jika kotak pengumpulan suara terbatas, maka tidak semua suara bisa masuk dan dihitung. "Suara yang tidak masuk tentu akan hangus," lanjutnya.

Trump sendiri juga disebut menempatkan pejabat pilihannya di lembaga layanan pos AS United States Postal Service (USPS) untuk menghalang-halangi proses voting via surat.

Baca Juga : Jebol 4.850, Kenaikan Jumlah Kasus Positif Cetak Rekor Lagi

“Semuanya dilakukan secara teror. Sehingga orang kulit berwarna akhirnya enggan keluar karena mereka pikir tidak terlalu aman. Mungkin ada penembakan, ditakut-takuti, jadi ini mengurangi keterlibatan orang non kulit putih,” lanjutnya.

Bahkan, sejak Pemilu Presiden 2016, sudah ada langkah curang pihak Trump untuk menang. "Pada Pilpres 2016, didapati ada 17 pemilih dari kalangan non kulit putih menjadi sasaran teror. Ini jumlah yang sangat banyak," tandasnya. [DAY]