RMco.id  Rakyat Merdeka - Tekanan terhadap Armenia dan Azerbaijan untuk segera menghentikan konflik bersenjata kembali datang dari pemimpin dunia. Kali ini dari Presiden Iran, Hassan Rouhani. Dia menilai, perang antara Azerbaijan dan etnis Armenia di Nagorno-Karabakh bisa berubah jadi konflik regional.

Dalam sebuah rapat kabinet Rouhani menilai, konflik itu sama sekali tak dapat diterima. Apalagi, senjata dari kedua pihak yang berperang, dari mortir hingga rudal, nyasar ke wilayah dekat perbatasan barat laut Iran. Akibatnya, sejumlah warga Iran menderita luka-luka dan merusak sejumlah bangunan.

Baca Juga : BPBD: Banjir, 2.863 Orang Halmahera Utara Mengungsi

"Iran mengajukan protes resmi ke Azerbaijan dan Armenia, atas pelanggaran teritorial Iran," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Rouhani mengingatkan agar perang antara Armenia dan Azerbaijan tidak menjadi perang regional. Pihaknya menilai, perdamaian adalah dasar dari tiap aksi negaranya. Menurutnya, Iran selalu berharap dapat memulihkan stabilitas kawasan dengan cara damai. “Prioritas kami adalah keamanan kota dan desa kami,” kata Rouhani.

Baca Juga : Digelar 20-25 Februari, Pameran IDEX-NAVDEX Plus Konferensi Pertahanan Internasional Abu Dhabi

Dia juga mengatakan, Iran yang berbatasan dengan Armenia dan Azerbaijan, tidak akan mengirimkan teroris ke perbatasan negaranya. "Tidak, dengan alasan apapun," tegas pemilik nama lahir Hassan Feridon ini.

Komentarnya itu merupakan respon atas tudingan yang pertama kali dilontarkan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Macron menyebut, Turki mengirim militan Suriah ke wilayah tersebut. Namun, Turki yang merupakan sekutu dekat Azerbaijan dan mendukung pemberontak yang memerangi pasukan pemerintah Suriah, membantahnya.

Baca Juga : Menteri Uno Dukung Pembangunan Homestay Untuk Gejot Wisata Mandalika

Pertempuran pecah pada 27 September lalu di Nagorno-Karabakh. Menurut hukum internasional, wilayah itu berada dalam teritori Azerbaijan, meski dihuni dan diatur etnis Armenia. [PYB]