RMco.id  Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) memperingatkan China, agar tidak berupaya merebut kembali Taiwan. Peringatan itu dilontarkan saat sejumlah pihak meragukan respons AS atas aksi China terhadap Taiwan.

Dalam sebuah acara di Universitas Nevada, Las Vegas, AS, Penasehat Keamanan Nasional AS, Robert OBrien mengatakan, China terlibat dalam pengerahan angkatan laut besar-besaran. Hal itu sebelumnya hanya terjadi saat Jerman bersaing dengan Angkatan Laut Kerajaan Inggris sebelum Perang Dunia I.

Menurut OBrien, aksi China itu berupaya agar membuat AS hengkang dari Pasifik Barat. Setelahnya, China akan segera melakukan pendaratan amfibi di Taiwan.

Berita Terkait : Awas, Tandukan Si Banteng

Meski demikian, lanjut OBrien, pendaratan amfibi sulit dilakukan. Mengingat jarak China dan Taiwan sekitar 160 kilometer dan kurangnya pantai pendaratan di pulau Taiwan. “Itu bukan hal yang mudah," ujar OBrien, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Di AS sendiri, sebenarnya telah ada Undang-Undang (UU) yang mewajibkan Negeri Paman Sam itu memberikan Taiwan persenjataan untuk membela diri.

Komentar OBrien ini muncul, saat China terus meningkatkan aktivitas militernya di dekat Taiwan. Hal ini bertepatan di saat hubungan AS-China yang juga dalam kondisi terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

Baca Juga : PKS Warning Pemerintah Sigap Amankan Laut Indonesia

Di saat yang sama, OBrien mengulangi seruan AS, agar Taiwan meningkatkan belanja militernya untuk pertahanan. Juga melakukan reformasi militer, agar China tahu risikonya bila berani menyerang Taiwan. Bahkan agar Taiwan bisa menghalangi China dalam membangun armada militer.

Caranya, memperkuat militernya dengan lebih membanyak lagi rudal jelajah pertahanan pesisir, ranjau laut, kapal serang cepat, artileri bergerak, dan aset pengawasan yang canggih.

"Taiwan perlu mengubah diri menjadi landak secara militer. Singa pada umumnya tidak suka makan landak," kata dia, mengumpamakan.

Baca Juga : Upadate Gempa Sulbar, Basarnas: 49 Jiwa Meninggal

Sebelumnya, Selasa (6/10) waktu setempat, pejabat senior pertahanan AS untuk Asia Timur menyebut rencana Taiwan meningkatkan pengeluaran pertahanannya sebesar 1,4 miliar dolar AS (sekitar Rp 20,6 triliun) tahun depan. [PYB]