RMco.id  Rakyat Merdeka - Mantan Kepala Badan Intelijen Arab Saudi, sekaligus mantan Duta Besar (Dubes) Saudi di Amerika Serikat, Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdulaziz menyebut, Kerajaan Saudi harus tetap mendahulukan kepentingan dan keamanan dalam negeri, sekalipun ketika mendukung kemerdekaan Palestina.

Dalam wawancara ekslusifnya dengan televisi Saudi, Al Arabiya, seperti dikutip kantor berita Reuters, Kamis (8/10), Pangeran Bandar melontarkan kritikannya terhadap para pemimpin Palestina.

Baca Juga : Selangkah Lagi, Ibra Duet Dengan Mario Mandzukic

"Kita tengah berada di posisi mengkhawatirkan, bagaimana menghadapi tantangan dari Israel untuk membela Palestina. Tapi sebelumnya, kita harus perhatikan kepentingan dan keamanan dalam negeri," ujarnya dalam wawancara yang ditayangkan Rabu (7/10) tersebut.

Dalam wawancara sebelumnya, Pangeran Bandar mengkritik para pemimpin Palestina, yang menentang keputusan sejumlah negara dalam menormalisasi hubungan dengan Israel. Seperti Uni Emirat Arab (UEA) yang menormalisasi hubungan dengan Israel pada Agustus. Juga Bahrain, sekutu dekat Saudi, yang mengikuti langkah UEA pada September.

Baca Juga : Arsenal Vs Newcastle United, Misi Menembus 10 Besar

Pangeran Bandar menyayangkan sikap para pemimpin Palestina yang dinilainya tidak adil. Misalnya ketika Iran dan Turki membuka hubungan diplomatik dengan Israel, Palestina malah sangat menghormati kedua negara tersebut. Namun sikap sebaliknya malah ditunjukkan, bila hal itu dilakukan Saudi atau negara-negara kawasan Teluk.

"Turki menduduki Libya dan ingin membebaskan Yerusalem dengan menarik duta besarnya dari UEA. Lalu Iran ingin membebaskan Yerusalem, melalui (pemberontak) Houthi di Yaman, atau melalui Hizbullah di Lebanon dan Suriah," kritiknya.

Baca Juga : Di Tengah Hujan, Jokowi Tinjau Lokasi Banjir Di Kabupaten Banjar

Pangeran Bandar juga bercerita panjang lebar, mengenai bagaimana dukungan selama puluhan tahun dari Raja-raja Saudi dan negara-negara Teluk lainnya untuk perjuangan Palestina. "Jelas sekali, kita tidak bisa sepakat dengan para pemimpin Palestina itu," tandasnya. [DAY]