RMco.id  Rakyat Merdeka - Kirgizstan, salah satu negara pecahan Uni Soviet, kini menghadapi krisis politik dalam negeri. Rusia menggambarkan, negara itu kacau dan tidak punya kepemimpinan yang jelas.

"Situasinya terlihat kacau,” kata Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dikutip kantor berita Al Jazeera.

Saat ini, larangan meninggalkan negara itu telah ditetapkan terhadap sejumlah tokoh dan pejabat. Penetapan daftar itu untuk memastikan, bahwa negara itu masih tetap aman, meski di tengah kerusuhan untuk menggulingkan pemerintah. Kantor berita Rusia, Tass menggambarkan, para pejabat yang dilarang meninggalkan dari Kirgizstan itu adalah para pejabat penting.

Baca Juga : Kebutuhannya Naik Terus, Kemenperin Genjot Produksi Garam Industri

Negara yang berbatasan dengan Kazakhstan, China, Tajikistan dan Uzbekistan itu, menghadapi aksi protes ribuan rakyatnya, yang memprotes hasil pemilihan parlemen 4 Oktober lalu. Hasil pemilu yang memberikan kemenangan kepada partai-partai besar itu kini dibatalkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan kelompok oposisi.

Aksi demonstrasi memuncak segera setelah pemungutan suara. Pengunjuk rasa dari kubu oposisi menduduki gedung-gedung pemerintah. Mantan Presiden Almazbek Atambayev bahkan dibebaskan dari penjara.

Unjuk rasa itu pun memaksa kabinet Kirgizstan membubarkan diri, yang mengakibatkan tidak jelasnya kepemimpinan di negara itu. Kini, tiga kelompok oposisi mengajukan calon perdana menteri sementara, yang diperlukan untuk mengawasi pemungutan suara ulang dalam beberapa bulan mendatang.

Baca Juga : Bandara Soekarno-Hatta Fokus Matangkan 3 Persiapan

Selain Sadyr Zhaparov, seorang politisi oposisi yang dibebaskan dari penjara dan ditunjuk sebagai penjabat perdana menteri, pengusaha Tilek Toktogaziyev juga bakal ikut bersaing. Termasuk mantan perdana menteri, Omurbek Babanov.

Di saat yang sama, parlemen yang telah bubar tidak bisa menggelar pertemuan bersama, sehingga harus bertemu secara terpisah di luar markas yang dikepung pengunjuk rasa. Satu kelompok yang bertemu pada Rabu (8/10) malam di sebuah hotel, yang hanya terdiri dari 40 anggota. Padahal, keputusan penting seperti penunjukan kabinet membutuhkan mayoritas 61 suara.

Anggota parlemen Elvira Surabaldieva pun memposting video dari pertemuan online tersebut. Dia menjelaskan, pertemuan itu gagal meloloskan mosi untuk mendakwa Presiden Sooronbay Jeenbekov, yang tetap memegang kekuasaan, meski pemerintahan Perdana Menteri Kubatbek Boronov telah mengundurkan diri.

Baca Juga : Menantu Mantan Dirut BTN Digarap Kejagung

Presiden yang kini ditentang rakyat Kirgizstan itu pun tidak muncul di depan umum dalam beberapa hari terakhir. Namun kantor kepresidenan mengatakan, Presiden Sooronbay Jeenbekov masih tetap berada di Ibu Kota, Bishkek. Melalui kantor kepresidenan, Jeenbekov meminta rakyatnya tenang dan menyerukan dilakukannya pembicaraan antara faksi politik yang bersaing.
 Selanjutnya