RMco.id  Rakyat Merdeka - Korea Selatan (Korsel) merupakan salah satu negara yang dianggap berhasil melaksanakan pemilihan umum (Pemilu), namun tanpa menambah jumlah pasien positif Covid-19.

Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan Umar Hadi menyebut, ada tiga faktor utama yang membuat Negeri Gingseng ini sukses menjalankan pesta demokrasi pada 15 April lalu. Tiga faktor ini, menurutnya, bisa ditiru Indonesia yang rencananya bakal mengadakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dalam waktu dekat.

"Setelah pelaksanaan pemilu legislatif 15 April, kalau kita lihat dari grafik penambahan jumlah kasus per hari, itu tidak ada penambahan. Malahan ada penurunan dari jumlah kasusnya," jelas Umar, dalam webinar series Partai Golkar bertajuk "Protokol Kesehatan Dalam Pelaksanaan Pemilu Selama Pandemi Covid-19", Selasa (20/10).

"Maka terbukti, upaya protokol kesehatan yang diterapkan dalam Pemilu 15 April itu berhasil," lanjutnya.

Berita Terkait : Nih, Tiga Jurus Pemerintah Buat Tangkal Virus Corona

Tiga faktor itu adalah kesiapsiagaan, koherensi kebijakan pemerintah, dan kepercayaan publik. "Ketiganya dilakukan dengan baik oleh Korea Selatan," jelas Umar.

Tak hanya itu, Komisi Pemilihan Umum Korsel pun melakukan persiapan matang dalam menjalankan pemilu dengan menerapkan protokol kesehatan. "Mereka mencegah kerumunan dengan melakukan dua metode pemungutan suara. Yaitu lewat early voting dan mencoblos di TPS," paparnya.

Early voting dilaksanakan pada 10 dan 11 April. Sisanya, mengikuti pencoblosan di TPS pada 15 April. "Untuk memecah konsentrasi massa, dilakukan penambahan 200 TPS," infonya.

Di TPS pun diterapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti memakai masker dan sarung tangan, menjaga jarak, mencuci tangan, hingga mengukur suhu tubuh pemilih.

Berita Terkait : Petahana Dipatil Corona

Bahkan, semua yang berada di TPS diminta tak berbicara, demi meminimalisasi kemungkinan penularan virus Corona. "Orang yang datang ke TPS itu diukur suhunya. Kalau di atas 37,5 derajat Celcius, dia jalurnya beda. Nggak boleh bercampur ke yang biasa," sambung Umar.

Menurutnya, mereka yang datang ke TPS patuh pada protokol kesehatan, karena sudah paham betul alur mencoblos dengan disiplin protokol kesehatan.

Umar menyebutkan, KPU Korea Selatan sangat masif mensosialisasikan protokol kesehatan pemilu melalui televisi, radio, buku, hingga media sosial. Para petugas TPS dan saksi partai politik pun diberi pelatihan yang cukup mengenai penyelenggaraan pemilu di masa pandemi.

"Jadi dipastikan betul, petugas-petugas TPS maupun saksi-saksi dari partai politik mendapatkan pelatihan dan informasi yang cukup tentang bagaimana menyelenggarakan pemilu di masa pandemi," ujarnya.

Baca Juga : Cuaca Buruk, Basarnas Hentikan Sementara Pencarian Korban Dan Puing SJ 182

Hasilnya, tingkat partisipasi pemilih di pemilu 2020 mencapai rekor setelah 28 tahun, yakni 66,2 persen. Umar merinci, 11 juta pemilih atau 26,75 persen menggunakan hak pilihnya melalui early voting. Sedangkan yang mencoblos di TPS pada 15 April mencapai 29 juta pemilih.

Adapun Pilkada Serentak 2020 di Indonesia digelar di 270 wilayah di Indonesia, meliputi sembilan provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Masa kampanye berlangsung selama 71 hari, dimulai sejak 26 September dan berakhir 5 Desember 2020.

Hari pemungutan suara Pilkada rencananya akan dilaksanakan secara serentak pada 9 Desember. [DAY]